
Stishid.ac.id— Memahami bahasa Arab tidak selalu dimulai dari halaman kitab yang penuh harakat atau hafalan kaidah nahwu yang panjang. Terkadang, langkah pertama justru hadir dari keberanian mengucapkan satu kalimat sederhana, membiasakan telinga mendengar percakapan Arab, lalu mencoba memahaminya sedikit demi sedikit.
Semangat itulah yang mewarnai kegiatan Daurah Lughawiyah Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah pada 16–17 Oktober 2026 di Aula STIS. Mengusung tema “Revitalisasi Ihyaul Lughah dan Penguatan Literasi Kitab Turats sebagai Pilar Budaya Akademik Kampus”, kegiatan ini menjadi ikhtiar untuk menjadikan bahasa Arab lebih dekat dengan kehidupan mahasiswi, bukan sekadar materi yang dipelajari di ruang kelas.
Selama dua hari, para mahasiswi mendapatkan pembekalan tentang strategi membangun lingkungan berbahasa Arab, penguatan ilmu nahwu, hingga praktik membaca kitab turats. Rangkaian materi tersebut dirancang untuk menghubungkan pemahaman teori dengan keterampilan yang dapat diterapkan dalam keseharian maupun kegiatan akademik.
Dalam sambutannya, Ustadzah Rifdah Fauziah, S.H. menekankan pentingnya mempelajari bahasa Arab sebagai sarana memahami Al-Qur’an, hadis, dan berbagai literatur keislaman. Penguasaan bahasa Arab juga menjadi bekal bagi mahasiswi untuk memahami istilah keilmuan secara tepat dan mendalami khazanah pemikiran ulama.
Ia menjelaskan bahwa Daurah Lughawiyah tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Arab, tetapi juga menumbuhkan semangat ihyaul lughah atau menghidupkan bahasa Arab di lingkungan kampus dan asrama. “Harapannya, bahasa Arab tidak hanya dipelajari ketika perkuliahan berlangsung. Kita ingin bahasa ini menjadi bagian dari keseharian mahasiswi, digunakan dalam komunikasi, dan menjadi jalan untuk memahami kitab-kitab turats serta memperluas wawasan keilmuan,” tambah Ustdzh. Rifdah Fauziah, S.H sebagai penanggungjawab acara.
Tujuan tersebut menjadi penting di tengah kebutuhan mahasiswi untuk mengembangkan kemampuan akademik yang lebih luas. Dengan bahasa Arab yang semakin terasah, mahasiswi diharapkan lebih percaya diri berkomunikasi sekaligus mampu mengakses sumber-sumber keilmuan Islam secara lebih mendalam.
Pada Jumat, 16 Oktober 2026, sesi pertama menghadirkan Ustadz Muh. Dinul Haq, Lc., M.Pd. dengan materi “Strategi Jitu Membentuk Bi’ah Lughawiyah.” Dalam pemaparannya, mahasiswi diajak memahami bahwa lingkungan memiliki peran besar dalam membentuk kebiasaan berbahasa. Bahasa akan lebih mudah dipelajari ketika seseorang tidak hanya membaca dan menghafal, tetapi juga terbiasa mendengar, berbicara, dan menggunakannya dalam berbagai situasi.
Sejumlah strategi diperkenalkan, mulai dari membiasakan percakapan sederhana, menghafalkan _hiwar_ atau dialog bahasa Arab, mempelajari rangkuman tarikh, hingga memperbanyak penggunaan bahasa Arab melalui doa, zikir, dan percakapan sehari-hari.
Lingkungan berbahasa juga tidak terbatas pada ruang kelas. Kebiasaan tersebut dapat dibangun melalui kegiatan kurikuler, aktivitas nonkurikuler, kehidupan asrama, maupun lingkungan virtual. “Jangan menunggu sampai merasa mahir untuk mulai berbicara bahasa Arab. Justru melalui kebiasaan mendengar, mencoba berbicara, dan mengulang kosakata dalam keseharian, kemampuan itu perlahan akan terbentuk,” ucap Ustadz Muh. Dinul Haq.
Pesan tersebut mengingatkan bahwa proses belajar bahasa membutuhkan keberanian untuk memulai. Kesalahan bukan alasan untuk berhenti, melainkan bagian dari proses memahami dan memperbaiki diri. Di lingkungan kampus dan asrama, kebiasaan kecil seperti menyapa menggunakan bahasa Arab atau mencoba percakapan singkat dapat menjadi awal dari budaya berbahasa yang lebih kuat.
Jika hari pertama berfokus pada pembentukan lingkungan berbahasa, hari kedua, Sabtu, 17 Oktober 2026, diarahkan pada penguatan kemampuan memahami struktur bahasa dan membaca kitab turats. Ustadzah Dalilah Khairiyah, S.Pd. membawakan materi mengenai penguatan bahasa Arab, ilmu nahwu, dan praktik membaca kitab turats.
Mahasiswi diajak mengenali pola kata, memahami struktur kalimat atau tarkib, menentukan kedudukan kata, serta mempelajari tanda-tanda i’rab. Pembelajaran tidak berhenti pada menghafal rumus, tetapi dilanjutkan dengan mengamati pola kalimat, memahami kaidah inti, dan menerapkannya secara langsung dalam teks.
Salah satu sesi yang menjadi bagian penting ialah praktik membaca kitab gundul, yakni teks Arab tanpa harakat. Dalam proses ini, mahasiswi berlatih mengenali bentuk kata, menemukan hubungan antarkata, menentukan kedudukan dan harakat akhir, hingga menerjemahkan teks secara utuh.
Pendekatan tersebut memberikan kesempatan kepada mahasiswi untuk menguji pemahamannya secara langsung. Kaidah nahwu yang sebelumnya dipelajari sebagai teori mulai digunakan untuk membuka makna teks yang tidak selalu mudah dipahami. “Belajar nahwu sebaiknya tidak berhenti pada hafalan kaidah. Mahasiswi perlu berlatih mengenali struktur kalimat, menentukan kedudukan kata, dan menerapkannya ketika membaca teks. Dengan latihan yang konsisten, kemampuan membaca kitab akan berkembang secara bertahap,” tutur Ustadzah Dalilah.
Bagi mahasiswi STIS, kemampuan ini menjadi bekal penting dalam mendalami literatur keislaman. Kitab turats bukan hanya warisan tertulis dari para ulama, melainkan juga sumber pengetahuan yang dapat memperluas pemahaman terhadap berbagai persoalan keilmuan Islam.
Bagi Farhah Afiqah, mahasiswi semester 3 Hukum Ekonomi Syariah (HES), kegiatan seperti Daurah Lughawiyah dapat menjadi kesempatan untuk memperkuat kemampuan bahasa Arab sekaligus membangun keberanian dalam mempraktikkannya.
“Menurut saya, kegiatan ini sangat bermanfaat karena kami tidak hanya belajar teori, tetapi juga mendapatkan kesempatan untuk mempraktikkan bahasa Arab dan memahami cara membaca kitab gundul. Semoga setelah kegiatan ini, kami semakin percaya diri menggunakan bahasa Arab dalam keseharian dan lebih mudah memahami kitab-kitab turats,” ujar Farhah.
Harapan tersebut sejalan dengan tujuan kegiatan, yakni mendorong mahasiswi untuk terus belajar dan membangun kebiasaan berbahasa secara berkelanjutan. Sebab, perjalanan memahami bahasa Arab tidak selalu berlangsung dalam satu malam. Ada kosakata yang perlu diulang, kaidah yang perlu dipahami kembali, dan teks yang harus dibaca berkali-kali sebelum maknanya benar-benar terbuka. Namun, setiap usaha memiliki arti. Satu percakapan yang berhasil dilakukan, satu kalimat yang mampu dianalisis, atau satu paragraf kitab yang aykhirnya dipahami dapat menjadi penyemangat untuk melangkah lebih jauh.
Daurah Lughawiyah menjadi salah satu upaya STIS Hidayatullah untuk memperkuat budaya akademik melalui penguasaan bahasa Arab dan pemahaman khazanah keilmuan Islam. Dua rangkaian materi yang saling melengkapi pembentukan bi’ah lughawiyah dan praktik membaca kitab turats diharapkan tidak berhenti ketika kegiatan resmi berakhir. Sebaliknya, keduanya menjadi bekal untuk membangun kebiasaan belajar yang aktif, terarah, dan berkesinambungan.
Lebih dari sekadar agenda dua hari, kegiatan ini membawa harapan agar bahasa Arab semakin hidup dalam percakapan mahasiswi, hadir dalam aktivitas kampus dan asrama, serta membuka jalan bagi tumbuhnya tradisi membaca dan mengkaji kitab. Pada akhirnya, menghidupkan bahasa Arab bukan hanya tentang siapa yang paling fasih berbicara atau paling cepat membaca kitab. Ada proses panjang untuk terus belajar, saling mendukung, dan menjaga semangat menuntut ilmu. Dari satu kata yang diucapkan dengan berani hingga satu halaman kitab yang berhasil dipahami, setiap langkah kecil dapat menjadi awal perjalanan besar dalam merawat tradisi keilmuan Islam.
Antria/MediaSTIS