
stishid.ac.id— Senin pagi, 05 Oktober 2026 di depan kampus STIS Hidayatullah kembali menjadi ruang untuk menguatkan semangat menuntut ilmu sekaligus melakukan evaluasi diri. Apel pagi yang diikuti oleh seluruh dosen dan mahasiswi menghadirkan Ustdzh Ummi Kalsum Tono, S.H., M.H. sebagai pengisi materi.
Dalam kesempatan tersebut, Ustdzh Kalsum mengajak para mahasiswi untuk memandang kembali makna menuntut ilmu. Menurutnya, ilmu tidak cukup hanya tersimpan dalam ingatan atau tercermin melalui nilai akademik, tetapi harus memberikan pengaruh nyata terhadap hati, akhlak, dan cara seseorang berinteraksi dengan orang lain. “Ilmu bukan hanya informasi yang berada di kepala. Ilmu harus terlihat pada hati, akhlak, dan cara kita berinteraksi.”
Pesan tersebut menjadi pengantar bagi pembahasan tentang lima penyakit yang perlu diwaspadai oleh seorang penuntut ilmu. Kelima penyakit tersebut adalah menunda-nunda dan malas, terlalu banyak berbicara, ghibah dan membawa-bawa perkataan, hasad serta membandingkan diri, dan buruk akhlak serta kesombongan. Ustdzh Kalsum mengingatkan bahwa salah satu penyakit yang sering menghambat seorang penuntut ilmu adalah kebiasaan menunda. Kalimat seperti “nanti saya belajar”, “besok saya murojaah”, atau “nanti saya membaca buku” tanpa disadari dapat membuat waktu terus berlalu.
Ia mengajak para mahasiswi untuk tidak menunggu kondisi sempurna untuk memulai sesuatu. Sedikit tetapi konsisten, menurutnya, jauh lebih baik daripada terus menunggu waktu yang dianggap tepat. “Kita tidak harus selalu menunggu berada dalam kondisi yang ideal untuk memulai. Tetapi kita mulai dari sesuatu yang sedikit dan terus melakukannya.”
Nasihat itu menjadi pengingat bahwa waktu yang telah berlalu tidak dapat dikembalikan. Karena itu, seorang penuntut ilmu perlu belajar mengelola waktu dan memanfaatkannya sebaik mungkin.
Selain persoalan waktu, Ustdzh Kalsum juga mengingatkan tentang bahaya terlalu banyak berbicara. Hidup bersama dalam lingkungan asrama memang membuat interaksi menjadi bagian dari keseharian. Namun, pembicaraan yang tidak terarah dapat menghabiskan waktu dan membuka pintu kepada hal-hal yang tidak bermanfaat.
Ia mengingatkan bahwa tidak semua pembicaraan harus disampaikan. “Seorang penuntut ilmu mengetahui kapan harus berbicara dan kapan harus diam.” Pesan tersebut kemudian berlanjut pada pentingnya menjaga lisan dari ghibah dan membawa-bawa perkataan. Dalam kehidupan bersama, persoalan kecil dapat menjadi besar apabila perkataan disebarkan tanpa pertimbangan. Karena itu, ketika muncul masalah dengan saudari, jalan yang seharusnya ditempuh adalah memperbaiki masalah, bukan menyebarkannya.
Pada bagian berikutnya, para mahasiswi diajak untuk mewaspadai hasad dan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Keberhasilan seorang teman bukan berarti menjadi kegagalan bagi diri sendiri. Setiap orang memiliki kemampuan, bakat, dan jalan perkembangan yang berbeda.
Ustdzh Kalsum menekankan bahwa ukuran keberhasilan bukanlah menjadi lebih baik daripada orang lain, melainkan menjadi pribadi yang lebih baik dibandingkan diri sendiri pada hari sebelumnya. “Yang penting bukanlah kita harus menjadi lebih baik daripada orang lain. Yang penting adalah hari ini kita menjadi lebih baik daripada diri kita yang kemarin.”
Sikap tersebut juga mengajarkan para mahasiswi untuk ikut bergembira ketika saudarinya memperoleh keberhasilan. Sebab, rezeki dan keberhasilan orang lain tidak akan mengurangi apa yang telah Allah tetapkan bagi diri sendiri. Pembahasan kemudian mengarah pada penyakit terakhir, yaitu buruk akhlak dan kesombongan. Ustdzh Kalsum mengingatkan bahwa bertambahnya ilmu semestinya diiringi dengan bertambahnya ketawadhuan.
Seorang penuntut ilmu tidak seharusnya merasa lebih baik daripada orang lain hanya karena memiliki kelebihan dalam bidang tertentu. Bisa jadi seseorang lebih unggul dalam ilmu, sementara orang lain lebih unggul dalam kesabaran, ibadah, hafalan, atau akhlak. “Semakin bertambah ilmu kita, seharusnya semakin bertambah pula ketawadhuan kita.”
Karena itu, kehidupan bersama di asrama menjadi tempat untuk menguji sejauh mana ilmu benar-benar membentuk pribadi. Bukan hanya ketika berada di hadapan guru, tetapi juga ketika sedang lelah, marah, berbeda pendapat, maupun berinteraksi dengan teman.
Bagi Mudhi’ah, mahasiswi semester 5 HES, materi apel pagi tersebut menjadi pengingat untuk tidak hanya sibuk melihat kekurangan orang lain, tetapi juga berani mengevaluasi diri sendiri. “Saya merasa materi ini mengingatkan saya bahwa menuntut ilmu bukan hanya tentang mendapatkan nilai atau mengetahui banyak hal. Saya juga perlu melihat apakah ilmu yang saya pelajari sudah membuat saya lebih baik dalam menjaga lisan, bersabar, dan menghargai orang lain.”
Pesan tersebut sejalan dengan inti materi yang disampaikan bahwa ilmu seharusnya menghadirkan perubahan dalam diri. Jika belajar tentang kesabaran, maka seseorang berusaha menjadi lebih sabar. Jika belajar tentang tawadhu, maka ia berusaha menjadi lebih rendah hati. Jika memahami larangan ghibah, maka lisannya pun dijaga.
Apel pagi itu akhirnya bukan sekadar rutinitas untuk mengawali aktivitas perkuliahan. Di antara barisan dosen dan mahasiswi, ada ajakan sederhana untuk pulang membawa satu pekerjaan rumah yakni memperbaiki diri. Sebab, perubahan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang ia hadir dari keputusan kecil menyelesaikan tugas tanpa menunda, memilih diam ketika pembicaraan tidak bermanfaat, menahan lisan dari membicarakan orang lain, ikut bahagia atas keberhasilan teman, dan belajar rendah hati ketika memiliki kelebihan. Dari hal-hal kecil itulah ilmu perlahan menemukan maknanya dalam kehidupan.
Ummi Kalsum Tono, S.H., M.E