Belajar Menjaga Diri, Menguatkan Iman dalam Keseharian

stishid.ac.id— Senin, 14 September 2026 pagi di depan kampus STIS Hidayatullah Putri terasa berbeda. Seluruh mahasiswi dan dosen berkumpul mengikuti apel pagi yang bukan sekadar menjadi rutinitas awal pekan, tetapi juga menjadi ruang untuk kembali mengingat tujuan besar dalam menuntut ilmu membentuk diri yang berilmu sekaligus berakhlak.

Pada kesempatan tersebut, Ustadzah Nasiratun Nisa, S.H., M.E. hadir sebagai pemateri dengan menyampaikan nasihat bertema “Adab kepada Diri Sendiri”.

Di hadapan para mahasiswi, ia mengajak untuk melihat kembali satu hal yang sering luput dari perhatian. Selama ini, pembahasan tentang adab lebih sering diarahkan kepada hubungan dengan orang tua, guru, teman, maupun orang lain. Padahal, ada pula adab yang tidak kalah penting, yakni bagaimana seseorang memperlakukan dirinya sendiri.

“Karena diri kita adalah amanah dari Allah. Tubuh kita amanah, waktu kita amanah, pikiran kita amanah, ilmu yang kita miliki adalah amanah. Bahkan hati kita pun adalah amanah,” demikian pesan yang disampaikan dalam materi apel.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa menjaga diri bukan hanya persoalan penampilan atau kesehatan fisik. Lebih jauh, seorang muslimah perlu menjaga hati, pikiran, waktu, ilmu, serta perilakunya agar tetap berada dalam jalan kebaikan.

Dalam materinya, Ustadzah Nasiratun Nisa menjelaskan empat hal yang dapat menjadi bekal seorang muslimah dalam memperbaiki diri, yaitu taubat, muraqabah, muhasabah, dan mujahadah. Keempatnya menjadi rangkaian yang saling melengkapi dalam proses membangun pribadi yang lebih baik.

Hal pertama adalah taubat. Manusia tidak luput dari kesalahan. Ada kalanya seseorang lalai dalam ibadah, menyia-nyiakan waktu, berkata kurang baik, atau melakukan kesalahan yang hanya diketahui dirinya dan Allah.

Namun, kesalahan bukan alasan untuk berhenti memperbaiki diri. Taubat menjadi jalan untuk kembali. Materi tersebut mengingatkan bahwa taubat bukan sekadar ucapan istighfar, tetapi juga kesadaran untuk meninggalkan kesalahan, menyesalinya, dan memiliki tekad untuk tidak mengulanginya.Pesannya sederhana, tetapi dalam tidak perlu menunggu menjadi sempurna untuk berubah. Perbaikan bisa dimulai dari hari ini.

Selanjutnya adalah muraqabah, yaitu kesadaran bahwa Allah senantiasa mengetahui dan mengawasi setiap perbuatan manusia.Ustadzah Nasiratun Nisa mengajak para mahasiswi membayangkan sebuah keadaan ketika tidak ada seorang pun yang melihat. Dalam kondisi seperti itu, apakah seseorang masih mampu menahan diri dari perbuatan dosa?“Aku mungkin bisa bersembunyi dari manusia, tetapi aku tidak mungkin bersembunyi dari Allah.”

Kesadaran inilah yang diharapkan tumbuh dalam diri setiap mahasiswi. Bukan sekadar berbuat baik karena takut diketahui dosen atau teman, melainkan karena menyadari bahwa setiap tindakan berada dalam pengetahuan Allah.

Menjadi mahasiswa berarti terbiasa mengevaluasi tugas, makalah, hingga hasil ujian. Tetapi materi apel itu mengajak para mahasiswi untuk melakukan evaluasi yang lebih dalam mengevaluasi diri sendiri.

Sebelum tidur, seseorang dapat bertanya kepada dirinya, apa yang sudah dilakukan hari ini? Apakah ibadah sudah lebih baik? Apakah ada hati yang tersakiti? Apakah ilmu yang dipelajari semakin mendekatkan diri kepada Allah? Muhasabah bukan untuk menyalahkan diri, melainkan menjadi jalan untuk memperbaiki diri. Apa yang sudah baik dipertahankan, sementara yang masih kurang diperbaiki.

Bagian terakhir adalah mujahadah, yakni bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu dan berusaha memperbaiki diri.Tidak semua kebaikan mudah dilakukan. Seseorang mungkin mengetahui bahwa shalat tepat waktu itu baik, membaca Al-Qur’an itu penting, dan ghibah adalah perbuatan yang harus dihindari. Namun, mengetahui saja belum tentu membuat seseorang mampu melakukannya.“Manusia bisa berubah. Tetapi perubahan membutuhkan perjuangan. Sedikit demi sedikit.” Karena itu, proses menjadi lebih baik tidak harus selalu dimulai dengan langkah besar. Satu halaman Al-Qur’an yang dibaca dengan istiqamah, satu kebiasaan buruk yang perlahan ditinggalkan, atau satu kesalahan yang segera diperbaiki, semuanya merupakan bagian dari perjuangan.

Bagi Intisari, mahasiswi semester 7 Hukum Keluarga (HK), pesan yang disampaikan dalam apel tersebut menjadi pengingat bahwa kesibukan sebagai mahasiswa jangan sampai membuat seseorang lupa memperhatikan kualitas dirinya.“Menurut saya, materi tentang adab kepada diri sendiri ini sangat dekat dengan kehidupan kita sebagai mahasiswi. Kadang kita sibuk mengejar tugas, nilai, dan target kuliah, tetapi lupa mengevaluasi diri. Empat hal yang disampaikan, terutama muhasabah dan mujahadah, mengingatkan saya untuk terus memperbaiki diri sedikit demi sedikit dan tidak merasa cukup hanya dengan pencapaian akademik,” ungkap Intisari.

Pesan tersebut sejalan dengan penutup materi apel yang mengingatkan para mahasiswi agar tidak hanya sibuk membangun prestasi akademik, tetapi juga membangun akhlak. Sebab, ilmu yang dimiliki diharapkan tidak berhenti menjadi pengetahuan, melainkan mampu mendekatkan pemiliknya kepada Allah. Pagi itu, apel akhirnya bukan sekadar barisan yang berdiri rapi di depan kampus. Ia menjadi jeda sejenak untuk setiap mahasiswi bercermin kepada dirinya sendiri. Di tengah kesibukan kuliah, tugas, organisasi, dan berbagai target masa depan, ada satu hal yang tetap perlu dijaga hati yang ingin terus belajar menjadi lebih baik. Sebab terkadang, perjalanan paling jauh bukanlah perjalanan menuju suatu tempat, melainkan perjalanan pulang menuju diri sendiri yang lebih dekat kepada Allah.

Nasiratun Nisa, S.H., M.E