
stishid.ac.id- Seminar Hukum Ekonomi Syariah bertema “Membangun Economic Readiness Berbasis Manhaj Nubuwah” yang digelar pada Sabtu, 29 Agustus 2026, menjadi ruang bagi mahasiswi STIS Hidayatullah Balikpapan untuk melihat ekonomi dari perspektif yang lebih luas. Salah satu pemaparan yang menarik perhatian disampaikan Ustadz (Cand) Dr. Rizky Kurnia Sah, S.H.I., M.E., yang menekankan bahwa kesiapan ekonomi tidak dapat diukur hanya dari banyaknya uang atau harta yang dimiliki.
Menurut Ustadz Rizky, ekonomi pada hakikatnya berkaitan erat dengan pilihan. Setiap individu akan selalu berhadapan dengan pilihan dalam mengelola kehidupan, mulai dari menentukan kebutuhan, mengatur pengeluaran, hingga mengambil langkah untuk menghadapi perubahan zaman.
“Ekonomi itu bukan tentang uang, tetapi tentang pilihan.” tegas Ustdz. Rizky dalam pemaparannya. Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya memiliki kemampuan untuk menghasilkan uang. Mereka juga perlu memiliki kemampuan menentukan prioritas, membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta menyesuaikan pendapatan dengan pengeluaran.
Kecakapan tersebut menjadi bagian penting dari economic readiness, terlebih ketika mahasiswa mulai memasuki kehidupan yang menuntut kemandirian dan tanggung jawab lebih besar.
Ustadz Rizky juga menyoroti pentingnya skill bertahan hidup di tengah perubahan zaman yang semakin cepat. Perkembangan teknologi, termasuk hadirnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI), membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan, pekerjaan, maupun kehidupan sehari-hari. Kondisi tersebut menuntut mahasiswa untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan beradaptasi dan terus mengembangkan keterampilan.
Bagi Ustadz Rizky, perkembangan teknologi harus dihadapi dengan kesiapan, bukan ketakutan. Mahasiswa perlu memahami bahwa perubahan adalah bagian dari kehidupan sehingga kemampuan untuk belajar, beradaptasi, dan menemukan cara baru dalam menghadapi persoalan menjadi bekal penting untuk bertahan di masa depan.
Kesiapan ekonomi juga tidak berdiri sendiri. Ia berkaitan dengan bagaimana seseorang membangun kemandirian, mengembangkan keterampilan, mampu bersosialisasi, serta memiliki tanggung jawab terhadap kehidupan yang dijalaninya. Ketekunan dalam beribadah perlu berjalan beriringan dengan ikhtiar untuk menjadi pribadi yang mampu mengelola urusan kehidupan secara baik.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan bagi mahasiswi yang kelak akan memasuki kehidupan keluarga dan masyarakat. Kesiapan menuju masa depan bukan hanya persoalan memiliki penghasilan, tetapi juga kemampuan mengelola apa yang dimiliki, mengambil keputusan dengan bijak, dan bertanggung jawab atas pilihan yang dibuat.
Melalui pemaparannya, Ustadz Rizky mengajak mahasiswa untuk mulai membangun economic readiness sejak masa perkuliahan. Bukan menunggu sampai memiliki banyak harta, melainkan memulainya dari cara berpikir, kemampuan memilih, keterampilan, dan keberanian untuk beradaptasi.Sebab, masa depan tidak hanya membutuhkan orang yang kaya, tetapi orang yang siap. Siap memilih, siap mengelola, siap beradaptasi, dan siap bertanggung jawab atas setiap keputusan ekonominya.
Antria|| Media STIS Hidayatullah



