Dosen STIS Hidayatullah Perdalam Pemanfaatan AI untuk Dorong Riset hingga Publikasi Scopus

stishid.ac.id — Perkembangan artificial intelligence (AI) perlahan mengubah cara para akademisi bekerja. Bukan hanya menjadi teknologi yang membantu menyusun tulisan, AI kini mulai dimanfaatkan sebagai asisten dalam berbagai tahapan penelitian, mulai dari menemukan ide, menelusuri literatur, memetakan research gap, hingga membantu mempersiapkan manuskrip untuk jurnal ilmiah.​Peluang tersebut menjadi perhatian STIS Hidayatullah Balikpapan. Sebanyak 14 dosen STIS Hidayatullah, terdiri dari 8 dosen putra dan 6 dosen putri, mengikuti Bimbingan Teknis Pemanfaatan AI untuk Penelitian dan Penulisan Artikel Jurnal Bereputasi Internasional Terindeks Scopus yang diselenggarakan di Universitas Mulia, Balikpapan, Rabu (12/8/2026).​

Kegiatan menghadirkan Prof. Dr. Rudy Agung Nugroho, S.Si., M.Si., Ph.D., Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Mulawarman, sebagai pemateri. Bimtek ini tidak diarahkan sekadar untuk mengenalkan berbagai perangkat AI, tetapi bagaimana teknologi tersebut dapat ditempatkan secara tepat dalam proses penelitian dan penulisan ilmiah.​Dalam pemaparannya, Prof. Rudy menekankan agar akademisi mendudukkan teknologi ini secara proporsional.

​”AI hadir bukan sebagai jalan pintas atau pembuat karya ilmiah instan, melainkan sebagai research assistant yang membantu mempercepat dan mengefisiensikan proses riset. Pada akhirnya, ide, metodologi, dan tanggung jawab ilmiah tetap berada sepenuhnya di tangan peneliti,” tegas Prof. Rudy.

​Bagi para dosen STIS Hidayatullah, kesempatan ini menjadi ruang untuk memperluas wawasan sekaligus melihat kembali proses penelitian yang selama ini dilakukan. AI diperkenalkan sebagai research assistant yang dapat membantu memetakan topik, menemukan kata kunci, merangkum dan membandingkan literatur, mengeksplorasi data, hingga memberikan masukan terhadap struktur dan bahasa artikel. ​Namun, kecanggihan teknologi tetap menempatkan dosen sebagai pengambil keputusan utama. Ide penelitian, metodologi, analisis, interpretasi hasil, hingga tanggung jawab ilmiah tetap berada di tangan peneliti. Karena itu, pemanfaatan AI tidak dimaksudkan sebagai jalan pintas dalam menghasilkan karya ilmiah, melainkan sebagai alat bantu agar proses penelitian dapat berlangsung lebih efektif dan berkualitas.

​Materi yang diberikan juga membawa peserta melihat perjalanan penelitian secara lebih utuh, dari past research, state of the art, research gap, novelty, hingga aims dan benefits. Proses tersebut kemudian diarahkan menuju penyusunan manuskrip, pemilihan jurnal, submission, menghadapi komentar reviewer, revisi, hingga resubmission.​

“Pemanfaatan AI harus mampu menyasar seluruh tahapan riset secara utuh—mulai dari memetakan novelty, menyusun manuskrip yang kuat, hingga kesiapan menghadapi alur review di jurnal bereputasi internasional,” tambahnya.​

Kehadiran 14 dosen STIS dalam kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar untuk memperkuat budaya riset di lingkungan kampus. Terlebih bagi perguruan tinggi, kemampuan menghasilkan penelitian yang baik tidak berhenti pada selesainya sebuah penelitian, tetapi juga bagaimana hasil tersebut dapat dituangkan menjadi karya ilmiah yang dapat dibaca, dikutip, dan memberikan manfaat lebih luas.​

Di tengah derasnya perkembangan teknologi, para dosen STIS Hidayatullah diharapkan tidak hanya menjadi pengguna AI, tetapi mampu menggunakannya dengan kritis, produktif, dan tetap menjunjung tinggi etika akademik. Sebab, teknologi boleh membantu mempercepat proses, tetapi gagasan, integritas, dan tanggung jawab ilmiah tetap menjadi milik peneliti.

​Keikutsertaan ini menjadi langkah kecil yang diharapkan mampu membuka langkah yang lebih jauh dari ruang pelatihan menuju meja penelitian, dari gagasan menjadi manuskrip, dan dari manuskrip menuju publikasi ilmiah yang membawa manfaat bagi kampus dan masyarakat.

Antria|| STIS HIDAYATULLAH