
stishid.ac.id– Membangun generasi yang mampu menjadi teladan tidak cukup hanya dengan bekal ilmu, tetapi juga membutuhkan proses tarbiyah yang berkesinambungan, keteladanan, dan kepengasuhan yang terarah. Semangat inilah yang mewarnai Training Kepengasuhan dan Pelepasan Praktik Kerja Lapangan (PKL) yang mengusung tema “Qudwah dalam Pengasuhan: Membangun Integritas dan Tanggung Jawab.” Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, Rabu–Kamis, 7–8 Safar 1448 H/22–23 Juli 2026, di Aula STIS Hidayahtullah Putri dan Aula Masjid Nurul Mukhlisin Gunung Tembak Balikpapan ini dihadiri oleh seluruh dosen, guru, mahasiswi, santri Sekolah Menengah Hidayatullah (SMH) dan Usrah Mujaddidah.
Kegiatan ini berlangsung selama dua hari pelaksanaan, kegiatan ini menjadi ruang kolaborasi seluruh unsur pendidikan putri dalam memperkuat sistem tarbiyah, pembentukan adab, peningkatan kualitas ibadah, sekaligus mempersiapkan mahasiswi agar mampu menjadi pengasuh yang menghadirkan qudwah atau keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
Hari pertama diisi dengan penguatan kapasitas calon pengasuh melalui materi seputar kepengasuhan, pembangunan peradaban, dan manajemen konflik. Suasana berlangsung hangat dan reflektif, mengajak seluruh peserta memahami bahwa menjadi pengasuh bukan sekadar menjalankan tugas, melainkan membentuk karakter, menjaga nilai, dan menghadirkan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, hari kedua menjadi momentum pelepasan mahasiswi Praktik Kerja Lapangan (PKL), ditandai dengan serah terima peserta, pembacaan Surat Keputusan (SK) PKL, serta pengukuhan 26 mahasiswi semester III Program Studi Hukum Keluarga dan Hukum Ekonomi Syariah sebagai pengasuh di lingkungan pendidikan putri.
Selanjutnya, para mahasiswi akan menjalankan Praktik Kerja Lapangan (PKL) selama satu tahun di Sekolah Menengah Hidayatullah (SMH) Usrah Mujaddidah. Selama masa tersebut, mereka tidak hanya mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah, tetapi juga terlibat secara langsung dalam sistem kepengasuhan, pembinaan ibadah, pembentukan adab, serta pendampingan keseharian santri sebagai bagian dari proses kaderisasi dan pendidikan Islam.
Dalam sambutannya, Ketua STIS Hidayatullah Balikpapan, Ustadz Rizky Kurnia Sah, S.H.I., M.E., menegaskan bahwa musrif dan pengasuh merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari mekanisme tarbiyah. Menurutnya, sebagaimana para rasul diutus untuk membacakan ayat-ayat Allah, menyucikan jiwa, dan mengajarkan hikmah, demikian pula musrif hadir untuk memastikan proses tarbiyah dan tazkiyah berjalan secara maksimal. Ia mengingatkan bahwa pembinaan tidak akan berjalan optimal apabila masih ada sekat, kurangnya keikhlasan, atau tidak adanya keterbukaan terhadap musrif.
“Kebaikan tidak akan mudah bertransformasi kepada orang lain apabila kita memilih hidup sendiri. Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial dan di dalam kebersamaan itulah peradaban dibangun. Sistem asrama, kehidupan berjamaah, dan kepengasuhan merupakan mekanisme pendidikan yang melahirkan kader-kader pembimbing. Jika muncul keinginan untuk berjalan sendiri dan menjauh dari jamaah, maka beristighfarlah, perbaikilah hubungan dengan musrif, karena di sanalah proses tarbiyah berlangsung,” pesannya.
Ia juga mengajak seluruh peserta untuk terus menjaga konsistensi, baik ketika menjadi orang yang diasuh maupun saat menerima amanah mengasuh. Menurutnya, kepengasuhan adalah sarana untuk memperkuat ibadah, membiasakan amalan-amalan nawafil, serta membangun karakter yang kelak akan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Senada dengan hal tersebut, Ketua BP3 Putri, Ustadzah Siti Solekhah, S.H.I., M.M, mengingatkan bahwa kepengasuhan merupakan amanah besar yang akan menentukan kualitas kader dan masa depan peradaban Islam.
“Kepengasuhan ini bukan hanya tugas, tetapi amanah peradaban. Mari kita sukseskan bersama dengan menghadirkan keteladanan dalam setiap proses pembinaan,” ungkapnya.
Sementara itu, penanggung jawab kegiatan, Ustadzah Sitti Masyita Masykur, Lc., M.E., menjelaskan bahwa training ini merupakan bentuk kolaborasi seluruh unsur pendidikan putri dalam memperkuat sistem pembinaan yang terintegrasi.
“Tujuan kegiatan ini adalah membangun kolaborasi dalam rangka meningkatkan kualitas tarbiyah, adab, dan ibadah di lingkungan pendidikan putri dengan menjadikan mahasiswi sebagai pengasuh yang mampu menjadi qudwah atau teladan dalam keseharian,” jelasnya.
Amanah sebagai pengasuh disambut penuh syukur oleh Mutiara, salah seorang mahasiswi yang akan melaksanakan PKL. Baginya, kesempatan tersebut bukan hanya menjadi wahana pengabdian, tetapi juga proses mendidik diri agar semakin layak menjadi teladan.”
Saya merasa ini bukan sekadar penugasan, tetapi proses mendidik diri sendiri sebelum mendidik orang lain. Amanah ini mengingatkan saya untuk terus memperbaiki ibadah, menjaga adab, dan belajar menjadi teladan yang baik bagi adik-adik santri,” tuturnya.
Hal senada dirasakan Alifa Az-zahra, salah seorang santri SMH Usrah Mujaddidah yang akan didampingi oleh para mahasiswi pengasuh. Ia berharap kehadiran para kakak pengasuh dapat menjadi tempat belajar sekaligus sosok yang menginspirasi.
“Kami senang memiliki kakak-kakak pengasuh yang akan mendampingi kami. Semoga mereka menjadi teladan yang baik, membimbing kami dengan penuh kasih sayang, dan bersama-sama tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya,” ujarnya.
Training Kepengasuhan dan Pelepasan PKL ini menjadi penegas bahwa pendidikan di STIS Hidayatullah Putri tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kepemimpinan melalui sistem tarbiyah yang terintegrasi. Melalui kolaborasi antara kampus, guru, dosen, musrif, dan santri, diharapkan lahir generasi pengasuh yang berintegritas, bertanggung jawab, serta mampu menjadi qudwah dalam membangun peradaban Islam yang kokoh di masa mendatang.
Antria || Media STIS Hidayatullah



