
stishid.ac.id– Menjadi pengasuh bukan sekadar mampu menyampaikan nasihat atau menegakkan aturan. Lebih dari itu, seorang pengasuh dituntut memiliki kepekaan untuk memahami dunia remaja, menyelami pergulatan yang mereka hadapi, dan menghadirkan pendampingan yang menenangkan sekaligus menguatkan. Nilai inilah yang menjadi benang merah dalam Sharing Session Keputrian bertajuk Perkembangan Remaja dalam Perspektif Islam yang diselenggarakan STIS Hidayatullah Putri Balikpapan pada Senin, 20 Juli 2026, di Aula STIS Hidayatullah Putri Balikpapan.
Menghadirkan Ustadzah Ani Chaerani, M.Pd. sebagai pemateri, kegiatan ini diikuti oleh seluruh calon alumni sebagai bagian dari pembekalan menjelang masa pengabdian. Melalui sesi ini, para peserta dipersiapkan untuk menjadi kader sekaligus pengasuh yang mampu menghadirkan pembinaan yang relevan dengan tantangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam.
Dalam pemaparannya, Ustadzah Ani menjelaskan bahwa setiap fase perkembangan remaja memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda. Oleh karena itu, seorang pengasuh tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan berupa aturan dan nasihat, tetapi juga harus mampu memahami kondisi psikologis, emosional, dan spiritual remaja. Dengan pendekatan yang penuh empati dan hikmah, proses pembinaan akan lebih mudah diterima dan memberikan dampak yang lebih mendalam.
Menurutnya, keberhasilan pengasuhan tidak diukur dari seberapa banyak aturan yang dibuat, tetapi dari seberapa besar kehadiran seorang pengasuh mampu menjadi tempat bertanya, tempat didengar, dan tempat kembali bagi remaja yang sedang bertumbuh menemukan jati dirinya.
Selain membahas karakter remaja, Ustadzah Ani juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi merupakan tantangan yang tidak dapat dihindari dalam dunia pengasuhan saat ini. Kehadiran teknologi harus dipahami sebagai sarana yang dapat dimanfaatkan secara bijak, bukan sesuatu yang mengendalikan kehidupan manusia.”
Teknologi merupakan bagian dari zaman yang kita hadapi hari ini, sehingga penting untuk dipahami dan dimanfaatkan. Namun, teknologi hanyalah alat bantu, bukan tujuan utama. Jangan sampai kita bergantung sepenuhnya padanya. Yang terpenting adalah bagaimana kita tetap mampu menjalankan tugas dan amanah dengan baik, termasuk saat mengemban perjuangan di cabang nanti,” pesan Ustadzah Ani Chaerani.
Pesan tersebut menjadi bekal penting bagi para calon alumni yang kelak akan terjun ke berbagai daerah pengabdian. Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial, seorang kader dituntut tetap memiliki kebijaksanaan dalam memanfaatkan teknologi sekaligus menjaga kualitas interaksi, keteladanan, dan kedekatan dengan para remaja yang dibinanya.S
alah seorang peserta, Miftakhul Jannah, mengaku mendapatkan banyak pelajaran berharga dari sesi ini. Baginya, memahami remaja bukan hanya tentang mengetahui teori perkembangan, tetapi juga tentang melatih kesabaran, empati, dan kemampuan untuk mendampingi mereka dengan kasih sayang.
“Materi ini membuka wawasan saya bahwa menjadi pengasuh membutuhkan ilmu sekaligus kelembutan hati. Saya belajar bahwa setiap remaja memiliki cara bertumbuh yang berbeda sehingga membutuhkan pendekatan yang berbeda pula. Insyaallah, bekal ini akan saya jadikan pedoman ketika menjalankan amanah pembinaan nanti agar mampu menjadi pendamping yang tidak hanya memberi arahan, tetapi juga mampu memahami dan membersamai proses tumbuh mereka,” ungkap Miftakhul Jannah.
Sharing Session Keputrian ini menjadi salah satu ikhtiar STIS Hidayatullah Putri Balikpapan dalam menyiapkan calon alumni yang tidak hanya siap mengajar dan membina, tetapi juga mampu menghadirkan keteladanan melalui sikap yang penuh kasih, kesabaran, dan hikmah. Sebab pada akhirnya, remaja tidak selalu membutuhkan seseorang yang memiliki semua jawaban, tetapi mereka selalu membutuhkan sosok yang bersedia mendengarkan, memahami, dan berjalan bersama mereka menuju kebaikan. Dari tangan-tangan pengasuh yang tulus itulah, lahir generasi yang tumbuh dengan iman, akhlak, dan harapan untuk menjadi penerus perjuangan Islam.
Antria || STIS Hidayatullah



