Mengenal Lebih Dekat Ilmu Al-Qur’an, Mahasiswi Baru STIS Hidayatullah Perdalam Tahsin Bersanad

stishid.ac.id– Membaca Al-Qur’an bukan sekadar melafalkan rangkaian huruf demi huruf. Di balik setiap ayat yang dibaca, terdapat kaidah yang perlu diperhatikan, mulai dari ketepatan makhraj hingga kesempurnaan sifat setiap huruf. Kesadaran inilah yang menjadi bekal bagi mahasiswi baru STIS Hidayatullah dalam mengikuti kegiatan Daurah Tahsin dengan Metode LPQ Gunung Tembak Bersanad.

Mengusung tema “Tepat Makhrojnya, Sempurna Bacaannya”, kegiatan ini berlangsung selama dua hari, Sabtu–Ahad, 24–25 Oktober 2026, bertempat di Aula STIS Hidayatullah Balikpapan. Daurah ini merupakan agenda rutin tahunan yang diperuntukkan bagi mahasiswi baru angkatan 2026–2027.

Kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi para mahasiswi untuk mengenal lebih dekat ilmu tahsin, khususnya sebelum materi tersebut dipelajari lebih mendalam di ruang perkuliahan. Sementara bagi mahasiswi yang telah memiliki pengalaman belajar sebelumnya, kegiatan ini menjadi ruang untuk kembali mengulang dan memperkuat pemahaman atau murojaah.

Ustadzah Rheyna Fatihnah Salsabila selaku penanggung jawab kegiatan menjelaskan bahwa daurah ini dirancang sebagai pengenalan sekaligus penguatan dasar-dasar membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar.

“Harapannya, melalui kegiatan ini mahasiswi baru benar-benar bisa memahami makharijul huruf dan sifatul huruf dengan baik dan benar. Jika ada hal yang belum dipahami, silakan ditanyakan. Jangan ragu untuk bertanya agar setiap materi yang disampaikan bisa benar-benar dimengerti,” ungkapnya.

Hadir sebagai pemateri, Ustadzah Dhiyaan Musaddad, yang memiliki kompetensi keilmuan Al-Qur’an dengan sanad bersambung. Ia merupakan pemegang sanad Al-Qur’an riwayat Hafsh ‘an Ashim, sanad Matan Tuhfatul Athfal, serta sanad Matan Jazariyyah.

Dalam penyampaian materinya, ia mengajak para mahasiswi untuk tidak memandang ketepatan bacaan Al-Qur’an sebagai hal yang bisa diabaikan. Setiap huruf memiliki tempat keluar dan karakteristik tersendiri yang harus diperhatikan agar bacaan tetap sesuai dengan kaidah ilmu tajwid.“Jangan hanya mengejar kelancaran membaca, tetapi perhatikan juga bagaimana setiap huruf dikeluarkan dari makhrajnya dan bagaimana sifat huruf tersebut. Karena ketepatan dalam membaca Al-Qur’an perlu dibangun melalui pemahaman dan latihan yang terus-menerus,” pesannya kepada para peserta.

Selama kegiatan berlangsung, para mahasiswi mendapatkan kesempatan untuk menyimak materi, memperhatikan contoh pelafalan, serta memperdalam pemahaman mengenai makharijul huruf dan sifatul huruf. Suasana belajar juga menjadi lebih hidup dengan adanya kesempatan bagi peserta untuk bertanya mengenai bagian-bagian yang belum mereka pahami.

Salah seorang peserta, Nurizan, mahasiswi semester 1 HES, mengungkapkan bahwa kegiatan ini memberikan pengalaman dan pemahaman baru baginya dalam mempelajari cara membaca Al-Qur’an dengan lebih tepat.“Melalui kegiatan ini saya jadi lebih memahami bahwa membaca Al-Qur’an tidak hanya tentang lancar, tetapi juga harus memperhatikan makhraj dan sifat setiap huruf. Kegiatan ini membuat saya semakin termotivasi untuk memperbaiki bacaan dan terus belajar agar bisa membaca Al-Qur’an dengan lebih baik,” tuturnya.

Daurah Tahsin ini menjadi langkah awal bagi mahasiswi baru untuk membangun kedekatan dengan Al-Qur’an melalui bacaan yang benar. Sebab, perjalanan memperbaiki bacaan tidak berhenti setelah dua hari kegiatan selesai. Ia justru menjadi awal dari proses belajar yang panjang, melalui latihan, kesungguhan, dan kemauan untuk terus memperbaiki diri.

Pada akhirnya, setiap huruf yang dilafalkan dengan benar adalah bagian dari ikhtiar memuliakan Kalamullah. Dari ruang Aula STIS, para mahasiswi membawa pulang lebih dari sekadar materi pembelajaran sebuah kesadaran bahwa mencintai Al-Qur’an juga berarti bersungguh-sungguh memperbaiki cara membacanya.

Antria/MediaSTIS