
stishid.ac.id–Tubuhnya kecil, langkahnya nyaris tak terdengar, tetapi semut menyimpan pelajaran besar tentang kehidupan. Di balik kebiasaannya mencari dan mengumpulkan makanan, ada nilai tentang ketekunan, persiapan, harapan, dan kesungguhan yang dapat menjadi bekal bagi siapa saja, termasuk para mahasiswi dalam menapaki perjalanan akademik.
Pesan sederhana itulah yang disampaikan Ustadzah Antria Susilawati, S.H., M.E. dalam kegiatan apel mahasiswi STIS Hidayatullah pada Senin (26/10/2026), yang berlangsung di depan kampus STIS dan dihadiri seluruh mahasiswi serta dosen.
Mengangkat inspirasi dari buku The Ant Philosophy karya Jim Rohn, Ustadzah Antria mengajak para mahasiswi untuk melihat semut dari sudut pandang yang berbeda. Bukan sekadar serangga kecil yang kerap ditemukan di sekitar rumah, melainkan makhluk yang mengajarkan banyak hal tentang bagaimana menjalani kehidupan dengan penuh kesungguhan.
Dalam penyampaiannya, ia memperkenalkan empat filosofi semut yang relevan dengan kehidupan mahasiswa. Pelajaran pertama adalah pantang menyerah. Ketika menemukan sesuatu yang menghalangi jalannya, semut tidak berhenti begitu saja. Ia akan mencari jalan lain untuk mencapai tujuannya.
Begitu pula dalam kehidupan mahasiswa. Kesulitan memahami pelajaran, kegagalan dalam ujian, atau perasaan tertinggal dari teman-teman bukanlah alasan untuk berhenti berusaha. “Failure does not mean we cannot succeed. We can try again and find a better way to learn,” ungkapnya Ia engingatkan bahwa kegagalan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan kesempatan untuk belajar dan bertumbuh menjadi lebih baik.
Pelajaran kedua adalah mempersiapkan masa depan sejak dini. Semut mengumpulkan makanan ketika kesempatan tersedia, bukan menunggu sampai persediaannya habis. Kebiasaan ini menjadi pengingat bagi mahasiswi agar tidak menunda persiapan masa depan hingga menyelesaikan pendidikan. Masa kuliah, menurutnya, merupakan kesempatan berharga untuk mengembangkan kemampuan. Mahasiswi dapat mulai meningkatkan keterampilan berbahasa, baik Inggris, Arab, Mandarin, Jepang, maupun bahasa lainnya. Selain itu, kemampuan menulis dan berbagai keterampilan baru juga perlu terus diasah. Sebab, apa yang dipelajari hari ini bisa menjadi bekal berharga untuk menghadapi tantangan di masa mendatang.
Pelajaran ketiga adalah tetap melangkah meskipun keadaan tidak selalu mudah. Ada masa ketika seseorang merasa lelah, kehilangan semangat, atau belum melihat hasil dari usaha yang telah dilakukan. Namun, keadaan sulit hari ini tidak seharusnya membuat seseorang kehilangan harapan terhadap hari esok.Ustadzah Antria kemudian mengingatkan para mahasiswi pada firman Allah dalam Surah Al-Insyirah ayat 5: “Fa inna ma’al-‘usri yusra.” Yang artinya “Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa setiap kesulitan hendaknya dihadapi dengan kesabaran, ikhtiar, dan keyakinan kepada Allah. Tidak semua hasil dapat dirasakan dengan segera, tetapi setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh memiliki nilai dalam perjalanan kehidupan.
Adapun pelajaran keempat adalah melakukan yang terbaik dalam setiap kesempatan. Semut terus bekerja dan mengumpulkan makanan sesuai kemampuannya. Dari kebiasaan tersebut, mahasiswi diajak untuk memberikan usaha terbaik dalam setiap amanah dan kesempatan yang dimiliki. Ketika mendapat tugas presentasi, misalnya, persiapkan dengan baik dan berlatihlah sebelum tampil. Ketika ada kesempatan mempelajari hal baru, jangan ragu untuk mengambilnya. “Kita tidak harus menjadi yang terbaik dalam segala hal. Yang terpenting adalah memberikan usaha terbaik yang kita mampu,” menjadi salah satu pesan yang ditekankan dalam penyampaiannya.
Menariknya, sebelum mengakhiri materi, Ustadzah Antria mengajak seluruh mahasiswi merenungkan sebuah pertanyaan sederhana jika hari ini merupakan kesempatan untuk mempersiapkan masa depan, apa yang sudah dilakukan untuk menjadikan masa depan lebih baik? Pertanyaan itu seolah mengajak setiap mahasiswi untuk sejenak melihat kembali perjalanan dirinya. Sebab, masa depan bukan hanya tentang mimpi yang ingin dicapai, tetapi juga tentang tindakan nyata yang dilakukan hari ini.
“Materi hari ini mengingatkan saya bahwa terkadang kita terlalu fokus memikirkan hasil, sampai lupa bahwa ada proses yang harus terus dijalani. Saya belajar bahwa kita tidak boleh mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan, apalagi sebagai mahasiswa yang sedang mempersiapkan masa depan. Hal-hal kecil yang kita lakukan hari ini, seperti belajar dengan sungguh-sungguh dan mengembangkan kemampuan diri, bisa menjadi sesuatu yang sangat berarti nantinya.” Ucap Mutiara Hikmah Fajar Mahasiswi semester 7 HK.
Melalui filosofi semut, para mahasiswi diajak memahami bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari langkah yang besar. Ada kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten, ada usaha yang terus dijaga meski hasil belum terlihat, dan ada kesempatan yang harus dimanfaatkan sebelum berlalu.Sebagaimana pesan penutup yang disampaikan Ustadzah Antria, “Start small, keep going, and never stop growing.” Mulailah dari hal kecil, teruslah melangkah, dan jangan pernah berhenti bertumbuh. Karena boleh jadi, keberhasilan besar di masa depan sedang dibangun melalui kesungguhan sederhana yang dilakukan hari ini.
Wasanlabiah/Media STIS