Jangan Sibuk Terlihat Hebat, Sibuklah Menjadi Hebat

stishid.ac.id— Senin pagi, 12 Oktober 2026, halaman depan kampus STIS Hidayatullah menjadi ruang untuk kembali menata niat dan memperkuat semangat menuntut ilmu. Seluruh dosen dan mahasiswi mengikuti apel pagi yang diisi oleh Ustadzah Marhamah Masykur, S.H.I., M.E., dengan pesan inspiratif bertajuk “Jangan Sibuk Terlihat Hebat, Sibuklah Menjadi Hebat.”

Di tengah kehidupan yang semakin lekat dengan media sosial, pesan tersebut mengajak para mahasiswi untuk melihat kembali apa yang sesungguhnya sedang mereka perjuangkan. Sebab, tidak sedikit orang yang begitu sibuk menampilkan pencapaian, tetapi lupa memberikan perhatian pada proses pembentukan diri.

Dalam penyampaiannya, Ustadzah Marhamah mengingatkan bahwa kehidupan di era digital sering kali membuat seseorang lebih memikirkan bagaimana dirinya terlihat di mata orang lain daripada bagaimana dirinya bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

“Jangan terlalu sibuk membangun citra sampai lupa membangun diri. Kita boleh membagikan hal-hal baik, tetapi jangan sampai kesibukan untuk terlihat hebat justru membuat kita lupa untuk benar-benar menjadi hebat. Sebab, yang terpenting bukan bagaimana orang lain melihat kita, melainkan bagaimana kita terus memperbaiki diri dan menjadi pribadi yang diridai Allah,” pesannya di hadapan para peserta apel.

Ia juga mengajak mahasiswi agar tidak mudah merasa tertinggal hanya karena melihat pencapaian orang lain. Apa yang tampil di media sosial sering kali hanyalah sebagian kecil dari perjalanan seseorang. Di balik sebuah prestasi, ada proses panjang, kegagalan, kesabaran, dan usaha yang tidak selalu diketahui banyak orang.

Karena itu, membandingkan proses diri sendiri dengan pencapaian orang lain bukanlah cara yang tepat untuk mengukur keberhasilan. Setiap orang memiliki perjalanan dan waktu bertumbuh yang berbeda. Hal terpenting adalah tetap berusaha, memperbaiki diri, dan tidak berhenti melangkah. Bagi seorang mahasiswi, kehebatan tidak selalu harus dibuktikan melalui penghargaan, nilai akademik yang tinggi, atau banyaknya orang yang mengenal namanya. Kehebatan justru dapat tumbuh melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Ustadzah Marhamah mengingatkan bahwa menjadi pribadi yang hebat berarti berani menjaga kejujuran ketika tidak ada yang mengawasi, tetap belajar meskipun tidak mendapat pujian, menjaga salat di tengah kesibukan, serta bersedia meminta maaf ketika melakukan kesalahan.

“Setelah belajar, tanyakan kepada diri kita apa yang sudah berubah dalam diri saya? Apakah ilmu yang saya pelajari membuat saya semakin bertanggung jawab, semakin baik akhlaknya, dan semakin bermanfaat bagi orang lain? Karena pendidikan bukan hanya tentang apa yang masuk ke kepala, tetapi juga tentang apa yang berubah dalam diri,” ungkapnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan seorang mahasiswi tidak hanya diukur dari hasil yang tertulis di atas kertas, tetapi juga dari karakter dan nilai-nilai yang tumbuh selama menjalani proses pendidikan. Lebih jauh, Ustadzah Marhamah mengajak para mahasiswi untuk tidak menjadikan validasi manusia sebagai ukuran utama kebahagiaan dan harga diri. Jumlah suka, komentar, pengikut, maupun pujian tidak seharusnya menentukan bagaimana seseorang menilai dirinya sendiri.

Dalam perspektif Islam, setiap usaha perlu dilandasi niat yang benar dan diarahkan untuk memperoleh rida Allah Swt. Tidak semua kebaikan harus diketahui orang lain. Ada amal yang cukup menjadi rahasia antara seorang hamba dan Rabb-nya, seperti sedekah yang tersembunyi, ibadah di waktu sunyi, dan perjuangan memperbaiki diri tanpa mencari pengakuan.

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Mulk ayat (13) “Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.” Ayat tersebut mengingatkan bahwa Allah mengetahui apa yang tersembunyi di balik setiap tindakan manusia. Karena itu, membangun kualitas diri dan menjaga keikhlasan menjadi hal yang tidak kalah penting dibandingkan pencapaian yang terlihat oleh orang lain.

Bagi mahasiswi STIS Hidayatullah, pesan ini menjadi ajakan untuk menyeimbangkan kesungguhan akademik dengan pembinaan iman dan akhlak. Ilmu yang dipelajari hendaknya tidak berhenti sebagai pengetahuan, melainkan menjadi bekal untuk menghadirkan manfaat bagi keluarga, masyarakat, umat, dan bangsa.

Pesan apel pagi tersebut turut memberikan ruang refleksi bagi Nabila Syarifah, mahasiswi semester 5 Hukum Keluarga (HK). Baginya, menjadi lebih baik tidak harus selalu ditandai dengan pencapaian besar yang diketahui banyak orang. Ada proses-proses kecil yang perlu terus dijalani, meskipun hasilnya belum terlihat.

“Pesan apel pagi ini menjadi pengingat bagi saya untuk tidak terlalu sibuk membandingkan diri dengan orang lain. Setiap orang punya proses dan waktunya masing-masing. Sebagai mahasiswi, saya ingin lebih fokus belajar, memperbaiki ibadah dan akhlak, serta menjalani tanggung jawab dengan sungguh-sungguh. Tidak harus selalu terlihat hebat di mata orang lain, yang penting kita terus bertumbuh menjadi lebih baik setiap hari,” ungkap Nabila.

Refleksi tersebut menunjukkan bahwa pesan tentang menjadi hebat tidak berhenti pada motivasi sesaat. Ia dapat menjadi pengingat bagi mahasiswi untuk menjalani keseharian dengan lebih sadar, menghargai proses, dan tetap berusaha meskipun tidak selalu mendapat apresiasi. Sebab, terkadang perubahan terbesar justru dimulai dari keputusan-keputusan sederhana membuka buku ketika ingin menunda belajar, tetap menjaga salat ketika jadwal padat, meminta maaf ketika melakukan kesalahan, atau membantu teman tanpa berharap mendapatkan pujian.

Apel pagi di depan kampus STIS Hidayatullah itu ditutup dengan pesan tentang pentingnya konsistensi dalam membangun kualitas diri. Menjadi pribadi yang hebat bukanlah sesuatu yang selesai dalam semalam. Ia tumbuh melalui kebiasaan baik yang terus dijaga, kesalahan yang dijadikan pelajaran, serta kesungguhan untuk bangkit setiap kali menghadapi kegagalan.

Ustadzah Marhamah mengajak para mahasiswi untuk membawa pulang tiga komitmen sederhana: mengurangi kebiasaan membandingkan diri, memperbanyak usaha membangun kualitas diri, dan melakukan lebih banyak kebaikan daripada sekadar menampilkannya. Pada akhirnya, kehidupan kampus bukan hanya tentang siapa yang paling berprestasi atau siapa yang paling menonjol. Ada nilai yang lebih mendalam, yakni bagaimana setiap mahasiswi tumbuh menjadi pribadi berilmu, beriman, berakhlak, dan mampu memberikan manfaat bagi sekitarnya.

Ketika apel usai dan aktivitas perkuliahan kembali dimulai, pesan itu dapat dibawa ke ruang-ruang kelas, perpustakaan, lingkungan pertemanan, hingga kehidupan di rumah. Tidak perlu menunggu kesempatan besar untuk berubah. Setiap hari selalu menyediakan ruang untuk memperbaiki diri, meski hanya melalui satu langkah kecil.

Sebab, pada akhirnya, menjadi hebat bukan sekadar tentang bagaimana dunia melihat kita, melainkan tentang siapa diri kita sebenarnya dan sejauh mana kita berusaha menjadi pribadi yang diridai Allah Swt.Jangan sibuk terlihat hebat. Sibuklah menjadi hebat bukan hanya di mata manusia, tetapi juga bernilai di hadapan Allah.

Marhamah Masykur, S.H.I., M.E