
stishid.ac.id— Senin pagi, 22 September 2026 di depan Kampus STIS Hidayatullah Putri terasa berbeda. Seluruh mahasiswi bersama para dosen putri berkumpul mengikuti apel pagi yang diisi dengan nasihat tentang pentingnya kesungguhan dalam menuntut ilmu.
Ustadzah Masyita, S.H., hadir sebagai pengisi materi. Dalam penyampaiannya, ia mengangkat tema “Menjadi Penuntut Ilmu yang Sukses”, sebuah pengingat bahwa perjalanan memperoleh ilmu bukanlah sesuatu yang instan, melainkan membutuhkan proses, kesabaran, dan perjuangan yang panjang.
Mengutip nasihat Imam Syafi’i, Ustadzah Masyita menyampaikan bahwa seorang penuntut ilmu membutuhkan enam perkara, yaitu kecerdasan, semangat yang kuat, kesungguhan, bekal yang cukup, berguru kepada seorang guru, serta waktu yang panjang.
“Engkau tidak akan memperoleh ilmu kecuali dengan enam perkara yakni kecerdasan, semangat yang kuat, kesungguhan, bekal yang cukup, berguru kepada seorang guru, dan waktu yang panjang.”
Nasihat tersebut menjadi pesan utama bagi para mahasiswi agar tidak memandang proses belajar hanya dari hasil yang terlihat. Sebab, ilmu membutuhkan perjuangan dan kesabaran. Bahkan ketika pemahaman belum sempurna atau hafalan belum kuat, seorang penuntut ilmu tetap dituntut untuk terus melangkah.
Ustadzah Masyita juga mengingatkan bahwa kecerdasan saja tidak cukup. Kemampuan berpikir perlu disertai usaha untuk terus belajar dan mengembangkan diri. Begitu pula semangat harus dibuktikan dengan kesungguhan, seperti melawan rasa malas, mengatur waktu, membaca, mengulang pelajaran, menghafal, dan berusaha memahami hal-hal yang belum diketahui.
“Jangan merasa gagal hanya karena belum cepat memahami pelajaran. Jangan berhenti belajar hanya karena perjalanan terasa berat. Selama kita terus memiliki keinginan untuk belajar, bersungguh-sungguh, dan bersabar dalam prosesnya, dengan izin Allah ilmu akan sedikit demi sedikit membuka jalan bagi kita.”
Bagi para mahasiswi, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan akademik bukan sekadar mengejar nilai, tetapi juga membangun kesabaran dan ketekunan. Lia Mardiani, mahasiswi semester 7 HES, mengungkapkan bahwa materi tersebut membuatnya kembali mengingat pentingnya menikmati setiap proses dalam menuntut ilmu.
“Materi pagi ini mengingatkan saya bahwa menuntut ilmu memang membutuhkan proses yang panjang. Kadang kita ingin segera memahami semuanya, padahal yang terpenting adalah tetap berusaha, tidak mudah menyerah, dan terus belajar meskipun sedikit demi sedikit.”
Selain semangat dan kesungguhan, keberadaan guru juga menjadi bagian penting dalam perjalanan menuntut ilmu. Guru bukan hanya tempat bertanya, tetapi juga pembimbing yang membantu meluruskan kesalahan dan mengarahkan murid agar memahami ilmu dengan benar. Karena itu, adab kepada guru dan kesediaan menerima nasihat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan seorang penuntut ilmu.
Pada akhirnya, apel pagi itu tidak sekadar menjadi rutinitas awal pekan. Di antara barisan mahasiswi dan suasana pagi di depan kampus, terselip sebuah pesan sederhana yaitu ilmu membutuhkan waktu.Tidak semua hal harus dipahami hari ini. Tidak semua usaha langsung menghasilkan sesuatu yang terlihat. Namun, selama langkah tetap dijaga dengan semangat, kesungguhan, bimbingan guru, dan kesabaran, perjalanan itu akan terus membawa seorang penuntut ilmu menuju kebaikan.
Masyita, S.H


