Belajar Melihat, Mendengar, dan Menghubungkan dalam Seminar Psikologi

stishid.ac.id- Kepedulian terhadap kesehatan mental tidak selalu dimulai dari ruang konseling. Kadang, ia tumbuh dari hal sederhana: kepekaan untuk melihat perubahan, kesediaan mendengarkan tanpa menghakimi, dan keberanian menghubungkan seseorang dengan bantuan yang tepat. Semangat inilah yang hadir dalam Seminar Psikologi bertema “Perlindungan Pertama pada Luka Psikologi di Sekolah (P3LP)”yang digelar di Aula STIS Putri pada Rabu, 5 Agustus 2026.

Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00–11.00 WITA tersebut diselenggarakan oleh Puskesmas Teritip sebagai bagian dari edukasi kesehatan mental bagi remaja. Seminar menghadirkan narasumber Dhea Rahma Artika, A.Md.Keb. dari Puskesmas Teritip dan diikuti oleh 40 peserta yang terdiri dari santri Usrah Mujaddidah (UM), santri Sekolah Menengah Hidayatullah (SMH), serta mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS).

Sejak awal kegiatan, peserta diajak memahami bahwa kesehatan psikologis merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kesehatan secara keseluruhan. Kondisi mental yang baik turut memengaruhi proses belajar, kemampuan bersosialisasi, hingga perkembangan remaja dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Dalam pemaparannya, Dhea Rahma Artika menjelaskan bahwa persoalan kesehatan mental pada remaja semakin banyak ditemukan. Namun, tidak semua persoalan tersebut terlihat atau terungkap. Rasa takut, kurangnya pemahaman, hingga stigma di lingkungan sekitar membuat sebagian remaja memilih memendam apa yang mereka rasakan.

“Kadang kita tidak tahu apa yang sedang seseorang hadapi hanya dari apa yang terlihat. Karena itu, penting bagi kita untuk lebih peka, mau mendengarkan, dan tidak terburu-buru memberikan penilaian,” jelas Dhea.

Kondisi tersebut kemudian digambarkan seperti fenomena gunung es. Apa yang tampak di permukaan hanyalah sebagian kecil dari persoalan yang sebenarnya ada. Karena itu, perhatian dari lingkungan terdekat menjadi penting agar seseorang tidak merasa sendirian ketika menghadapi persoalan psikologis.

Salah satu peserta, Lia Mardiani, mahasiswi semester 7 Hukum Ekonomi Syariah (HES), mengaku mendapatkan pemahaman baru setelah mengikuti seminar tersebut. Baginya, materi yang disampaikan tidak hanya berbicara tentang kesehatan mental, tetapi juga mengajarkan bagaimana menjadi seseorang yang lebih peka terhadap kondisi orang lain.

“Yang paling saya dapat dari kegiatan ini adalah belajar untuk lebih peka. Terkadang kita melihat seseorang baik-baik saja, padahal mungkin ada hal yang sedang ia pendam. Dari sini saya belajar bahwa mendengarkan dengan empati dan tidak langsung menghakimi itu sangat penting,” ungkap Lia.

Seminar kemudian berlanjut pada praktik **Perlindungan Pertama pada Luka Psikologi di Sekolah (P3LP) melalui tiga prinsip dasar, yaitu melihat, mendengar, dan menghubungkan.

Melihat berarti belajar peka terhadap perubahan perilaku, emosi, maupun kondisi seseorang yang mungkin menjadi tanda adanya persoalan psikologis. Mendengar berarti memberikan ruang bagi seseorang untuk menyampaikan perasaannya dengan sikap empati, penuh perhatian, dan tanpa menghakimi. Sementara menghubungkan berarti membantu seseorang mendapatkan dukungan dari orang yang dipercaya atau mengarahkannya kepada tenaga kesehatan dan layanan profesional ketika diperlukan.

Dhea menekankan bahwa kepedulian terhadap kondisi psikologis seseorang tidak harus dimulai dengan sesuatu yang besar. “Kita bisa mulai dari hal sederhana, seperti bertanya dengan tulus apakah dia baik-baik saja, kemudian memberikan ruang untuk bercerita. Yang terpenting adalah jangan membuat orang merasa sendirian menghadapi apa yang sedang dialaminya,” tuturnya.

Bagi para peserta, materi tersebut tidak berhenti sebagai pengetahuan di dalam ruangan. Mereka juga mendapatkan kesempatan memahami bagaimana prinsip-prinsip tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah, pesantren, maupun masyarakat.

Antusiasme peserta selama seminar menunjukkan bahwa pembahasan mengenai kesehatan mental semakin penting untuk dikenalkan sejak dini. Sebab, menjadi bagian dari lingkungan pendidikan bukan hanya tentang membantu seseorang mencapai prestasi akademik, tetapi juga memastikan setiap individu memiliki ruang yang aman untuk tumbuh, belajar, dan menyampaikan apa yang sedang ia rasakan.

Pada akhirnya, seminar ini meninggalkan pesan sederhana tidak semua luka terlihat, dan tidak semua orang yang sedang berjuang mampu mengatakannya. Bisa jadi, seseorang di sekitar kita hanya membutuhkan satu orang yang mau berhenti sejenak, mendengarkan tanpa menghakimi, dan mengatakan, “Kamu tidak harus menghadapi semuanya sendirian.”Dari kepedulian kecil itulah, sebuah lingkungan yang lebih aman dan penuh empati dapat tumbuh.