Warisan: Antara Ilmu dan Harta

Sabtu pagi, 8 November 2025 terasa berbeda di ruang diskusi dosen Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah (STIS) Hidayatullah Balikpapan. Beberapa dosen putra dan putri duduk menyimak dengan serius, sebagian lagi mencatat dengan antusias.

Di depan, sosok bersahaja dengan kemeja panjang dan songkok putih berbicara dengan suara tenang namun penuh wibawah, beliau Ustadz Ahmad Rifai, Lc., M.H., dosen senior sekaligus narasumber dalam diskusi ilmiah dosen kali ini.

Acara tersebut juga dihadiri langsung oleh Ketua STIS Hidayatullah Balikpapan,Ustadz Muh. Zaim Azhar, Lc., M.H. Hadir juga habib Lukman Hakim selaku dosen senior sekaligus satu angkatan dengan pemateri saat di bangku menengah, yang menambah suasana diskusi menjadi cair dan hangat, serta dosen lain yang ikut meramaikan acara diskusi.

Tema yang dibahas berkaitan dengan “Syarat Objek Jual Beli sebagai Jaminan dalam Transaksi Kredit menurut Imam Al Mawardi”. Acara tersebut sebagai refleksi peran dosen dalam membangun budaya akademik kampus.

Namun dari tutur lembutnya, mengalir nasihat yang jauh lebih dalam dari sekadar teori. Di awal pembicaraan, beliau melontarkan kalimat yang membuat ruangan sejenak hening:

“Jangan minder jika tidak banyak mewariskan harta, karena seorang pengajar telah mewariskan sesuatu yang jauh lebih mulia, yaitu ilmu.” Kalimat itu disambut senyum dan anggukan, bukan karena sekadar indah, tetapi karena mengandung kebenaran yang menenangkan.

Menariknya, di akhir sesi, beliau kembali menutup dengan kalimat yang sama. Seolah ingin menegaska bahwa warisan terbaik seorang pengajar, khususnya dosen bukan terletak pada banyaknya nominal, tetapi pada cahaya ilmu yang menuntun generasi.

Antara Donatur dan PengajarBelakangan ini, di kalangan masyarakat ada slogan “selain donatur tidak berhak mengatur.” Kata-kata yang viral itu menggambarkan realitas zaman.

Banyak yang menilai kekuasaan dan pengaruh hanya milik mereka yang memiliki harta. Dalam konteks ini, nasihat Ustadz Ahmad Rifai terasa seperti penyeimbang narasi dan mengingatkan bahwa di atas kekayaan materi, ada kekayaan intelektual dan spiritual yang jauh lebih abadi.

Dosen, guru, dan para pendidik sejatinya adalah pewaris para Nabi. Mereka mungkin tidak dikenal di dunia bisnis, tidak tampil di layar televisi, bahkan mungkin tidak memiliki harta berlimpah.

Namun, merekalah yang menyalakan api ilmu di dada manusia, membangun peradaban dengan pena, dan mengubah nasib bangsa dengan ketekunan mengajar.

Jejak Para Pewaris IlmuSejarah Islam penuh dengan kisah para ulama dan ilmuwan besar yang hidup sederhana, namun meninggalkan warisan keilmuan yang tak ternilai.

Kita mengenal Imam Al-Ghazali, yang wafat tanpa meninggalkan kekayaan duniawi, namun karya-karyanya seperti Ihya’ Ulumuddin dan Al-Munqidz min ad-Dhalal masih menginspirasi jutaan jiwa hingga kini.Beliau tidak mewariskan harta, tetapi mewariskan hikmah dan jalan spiritual yang membentuk wajah peradaban Islam selama berabad-abad.Begitu pula Imam An-Nawawi, ulama besar abad ke-7 Hijriah yang menulis puluhan karya monumental seperti Riyadhus Shalihin dan Al-Majmu’.

Dikisahkan, beliau hidup sangat sederhana, tidak menikah, dan waktunya dihabiskan sepenuhnya untuk belajar dan menulis. Ia pernah berkata, “Aku tidak menikah agar tidak terhalang waktuku dari menuntut dan mengajarkan ilmu.” Warisannya bukan keturunan darah, melainkan keturunan ilmu, murid-murid dan pembaca yang terus melanjutkan ilmunya. Atau kisah Ibnu Sina (Avicenna) dan Al-Khawarizmi, dua ilmuwan muslim yang menjadi tonggak kemajuan sains dunia.

ibnu Sina dikenal sebagai “Bapak Kedokteran Modern” lewat karya Al-Qanun fi al-Tibb, sementara Al-Khawarizmi meninggalkan konsep al-jabr (aljabar) yang menjadi dasar ilmu matematika modern. Mungkin mereka tak sempat membangun istana, tapi mereka membangun peradaban dengan pena dan pemikiran.Harta yang Tak Pernah HabisKisah-kisah itu seolah hidup kembali dalam benak penulis dalam refleksi yang disampaikan Ustadz Ahmad Rifai sebagai pemateri dalam diskusi ilmiah saat itu.

Ilmu itu warisan yang tak akan habis, harta bisa hilang, bisa diperebutkan, bahkan bisa menjerumuskan. Tapi ilmu akan terus hidup bahkan setelah pemiliknya tiada.

Setiap orang yang mengamalkan ilmu itu, akan mengalirkan pahala tanpa henti.Ucapan itu bukan sekadar motivasi, tapi juga pengingat bagi para pendidik terkhusus di lingkungan STIS Hidayatullah Balikpapan, bahwa profesi mereka adalah amanah mulia.

Hiruk-pikuk dunia yang semakin materialistik, dosen adalah penjaga api peradaban, mereka menghidupkan kembali semangat iqra’ (membaca), dan memelihara makna “jihad ilmu” di era modern.Refleksi untuk PendidikAcara diskusi ilmiah hari itu berakhir sederhana, tanpa tepuk tangan meriah atau seremoni panjang.

Namun banyak dosen yang pulang dengan hati yang hangat. Ada yang terdiam merenung, ada yang tersenyum kecil, mungkin teringat anak didik yang kini sudah berhasil, atau mungkin teringat masa-masa mengajar dengan penuh idealisme meski di tengah keterbatasan. Dari ruang diskusi itu, seakan terlahir kembali kesadaran bahwa menjadi dosen bukan sekadar profesi, melainkan peran suci dalam rantai panjang pewarisan ilmu.

Di dunia yang sibuk menghitung harta, masih ada mereka yang sibuk menanam ilmu. Barangkali, seperti yang disampaikan Ustadz Ahmad Rifai, di hadapan Allah kelak, warisan paling berharga bukanlah pada harta kekayaan yang berlimpah, melainkan ilmu yang terus hidup dan memberi manfaat, meski sang pengajar telah lama pergi

Nasikin, S.H., M.E.

Share:

More Posts