Menjaga Cahaya Ramadhan: Mahasiswa STIS Hidayatullah Istiqomah di Tengah Amanah Relawan

stishid.ac.id – Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Bagi mahasiswa STIS Hidayatullah, bulan suci ini menjadi ruang untuk menguatkan ibadah sekaligus mengabdi kepada umat.Memasuki 6 Ramadhan 1447 H (24/2/2026), aktivitas mereka berjalan dalam dua irama: halaqah Al-Qur’an setiap selepas shubuh dan tugas lapangan sebagai relawan zakat.

Lingkaran kecil halaqah itu tetap terjaga, meski siang harinya mereka harus bergerak menjalankan amanah sebagai perwakilan amil zakat dari Baitul Maal Hidayatullah (BMH) di Bontang dan di Sangatta.Di dua wilayah tersebut, mahasiswa terjun langsung ke masyarakat, mengedukasi pentingnya zakat, menghimpun dana, serta memastikan amanah tersampaikan kepada yang berhak. Mobilitas yang cukup padat tidak membuat mereka meninggalkan rutinitas ibadah.

Ketua DEMA STIS Hidayatullah, Habibullah Salam, menyampaikan pada 6 Ramadhan 1447 H (24/2/2026) bahwa Ramadhan justru menjadi momen pembuktian bagi mahasiswa.“Kalau dibilang capek, ya capek. Tapi justru di situ ujiannya. Kita nggak mau sibuk di Bontang dan di Sangatta, tapi ibadahnya turun. Makanya halaqah shubuh itu harus tetap jalan. Dari situ kita dapat kekuatan,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa menjadi relawan bukan sekadar mengejar target.“Ini bukan cuma soal target zakat. Kita lagi belajar jadi orang yang siap turun ke umat, tapi tetap jaga Qur’an. Jangan sampai aktivitas banyak, tapi ruhiyahnya kosong,” tambahnya.

Sementara itu, Muhammad Shaleh selaku pendamping mahasiswa, pada 6 Ramadhan 1447 H (24/2/2026) turut memberikan apresiasi.“Saya lihat mereka bisa jaga keseimbangan. Pagi halaqah, siang turun di Bontang dan di Sangatta, malamnya masih tilawah. Itu nggak mudah. Tapi Ramadhan memang tempat kita ditempa,” katanya.

Di Bontang dan di Sangatta, mahasiswa-mahasiswa itu membawa dua amanah: amanah zakat dan amanah menjaga diri. Siang hari mereka menyapa para muzakki, malam hari mereka kembali duduk melingkar bersama Al-Qur’an.

Ramadhan kali ini menjadi bukti bahwa kesibukan bukan alasan untuk meninggalkan istiqomah. Justru di tengah padatnya aktivitas di dua kota tersebut, cahaya Al-Qur’an tetap menjadi penuntun langkah mereka.

Abana