
Kelalaian adalah penyakit hati yang sering hadir tanpa kita sadari. Allah SWT memberikan kita waktu luang, kesempatan, dan kelapangan agar digunakan untuk mendekat kepada-Nya, namun justru sering kali waktu tersebut terbuang sia-sia.Pada kondisi inilah nasihat Rasulullah SAW menjadi sangat penting untuk kita renungkan.
Nabi SAW pernah berwasiat kepada Abdullah bin Abbas ra: تَعَرَّفْ إِلَى الَّلهِ فِيْ الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِيْ الشِّدَّةِ “Kenalilah Allah di waktu lapang, niscaya Allah akan mengenalimu di waktu engkau mendapatkan kesulitan.” (HR. Tirmidzi).
Pesan yang singkat namun mengandung makna mendalam ini mengajarkan bahwa seorang hamba tidak boleh hanya mengingat Allah ketika kesulitan melanda. Sebagian manusia saat diberi kelapangan justru lalai dari ibadah, namun ketika menghadapi masalah barulah ia memohon pertolongan.
Padahal Allah telah memperingatkan bahwa bagaimana mungkin seseorang berharap ditolong ketika ia sendiri tidak pernah mengingat Allah di waktu lapang.Al-Qur’an memberikan dua contoh yang sangat jelas, yaitu kisah Nabi Yunus AS dan kisah Firaun.
Nabi Yunus AS pernah mengalami kesulitan besar saat berada dalam perut ikan. Allah berfirman bahwa seandainya beliau bukan termasuk orang yang banyak bertasbih, niscaya beliau akan tetap berada dalam perut ikan hingga hari kebangkitan. Ibadah beliau sebelum musibah itulah yang menyebabkan Allah menyelamatkannya.
Berbeda dengan Firaun, yang diberi kekuasaan dan kerajaan besar, tetapi ia justru kufur dan angkuh. Ketika ia hendak tenggelam, ia baru mengaku beriman, namun Allah berfirman bahwa iman yang datang terlambat itu tidak diterima.
Dari sini, kita melihat betapa pentingnya mengenal Allah sebelum kesulitan datang.Hadis Rasulullah SAW ini memberikan pelajaran bahwa di masa lapang kita harus memperbanyak ibadah, syukur, dan ketaatan.
Jika seseorang membiasakan diri dekat kepada Allah ketika hidup sedang mudah, maka ketika kesulitan tiba Allah akan memberikan pertolongan, kemudahan, dan pemeliharaan. Makna “Allah mengenalmu” adalah bahwa Allah memperhatikan, menjaga, dan menolong hamba yang selalu mengingat-Nya.
Ada beberapa langkah praktis agar kita tidak terjerumus dalam kelalaian.
Pertama, jadikan dzikir sebagai rutinitas harian. Mulailah dari dzikir ringan seperti subḥânallâh, alḥamdulillâh, Allâhu akbar, dan lā ilāha illallâh.Biasakan di waktu-waktu tenang seperti setelah shalat, sebelum tidur, atau ketika sedang menunggu.
Kedua, perbanyak syukur di masa lapang. Tulislah beberapa hal yang disyukuri setiap hari, karena syukur menjaga hati agar tidak sombong dan tidak lupa kepada Allah sebagai pemberi nikmat.
Ketiga, bangun kebiasaan berdoa bukan hanya pada saat susah. Memohon petunjuk dan perlindungan di waktu lapang akan memperkuat hubungan kita dengan Allah.
Keempat, isi waktu luang dengan amal kebaikan, meski kecil namun dilakukan secara rutin. Membantu orang lain, tersenyum, atau melakukan kebaikan sederhana akan melatih hati untuk tetap sadar bahwa hidup bukan semata urusan diri sendiri.
Kelima, ingatlah kematian dan singkatnya kehidupan dunia. Renungan ini membantu menjauhkan kita dari kelalaian dan mendorong kita meningkatkan kualitas ibadah.Keenam, pilihlah teman yang baik, yang dapat mengingatkan kita kepada Allah.
Lingkungan sangat memengaruhi hati; berteman dengan orang saleh akan membantu kita menjaga diri dari kelalaian .Kelapangan waktu adalah nikmat sekaligus ujian.
Jangan sampai kita menjadi hamba yang hanya mengingat Allah ketika sedang terjepit.
Marilah kita mengamalkan wasiat Rasulullah SAW: “Kenalilah Allah di waktu lapang, niscaya Allah akan mengenalimu di waktu sempit.” Semoga kita termasuk hamba yang selalu dekat kepada Allah dalam setiap keadaan. Aamiin.
Oleh Masyita, S.H.



