Beginilah Suasana Ketika Masa Ujian Akhir Berlangsung

STISHID — Ujian biasanya menjadi hal yang paling menegangkan bagi setiap mahasiswa terutama bagi para mahasiswa baru, Apalagi ketika Ujian Akhir Semester (UAS) tiba.

Selain karena pada dasarnya ujian sudah merupakan hal yang menakutkan bagi para mahasiswa dan mahasiswi, khusus bagi mahasiswa dan mahasiswi baru, ujian akhir semester (UAS) akan menjadi pengalaman pertama untuk mereka.

Jangan kaget loh, kadang saking mereka sudah merasa tegang dan grogi dari awal, kadang mereka lupa apa yang sudah dipelajari, bahkan bisa tiba-tiba lupa nama mereka sendiri .

Suasana demikian juga nampak selama pelaksanaan ujian akhir  semester di Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah (STIS) Hidayatullah Balikpapan yang berlangsung sepekan sejak pada tanggal 4-15 Januari 2016 silam.

Meski telah berakhir, raut menegangkan yang terlihat dari sebagian wajah para mahasiswa selama berlangsungnya ujian merupakan suasana unik dan mengasikkan yang hingga saat ini masih saja terngiang dalam pikiran. Hingga kadang-kadang hal tersebut tanpa sadar membuat diri ini tersenyum sendiri.

Setidaknya itulah yang penulis rasakan dan alami ketika masih berstatus sebagai mahasiswa, ataupun ketika selama beberapa kali menjadi pengawas ujian. Dan suasana seperti ini akan terus terulang sejak 3 tahun silam, semenjak diri ini pertama kali diamanahi menjadi bagian dari pengelola perguruan tinggi Islam di kawasan timur kota Balikpapan tersebut .

Sejauh yang penulis temui selama ini, akan ada lima hal yang sangat lumrah ditemui ketika masa UAS berlangsung :

1. Sibuk Cari Materi

Ketika kuliah sebagian mahasiswa mungkin merasa omongan dosen masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri. Namun mendekati UAS, seluruh mahasiswa akan sibuk mengumpulkan bahan kuliah yang diujikan, baik dengan fotokopi, pinjam catatan teman, atau pergi ke perpustakaan.

2. Mengurus Administrasi

Kartu ujian biasanya menjadi salah satu syarat untuk mengikuti ujian. Selalu ada mahasiswa yang harus mengurus administrasi demi mendapatkan kartu ujian.
Dan untuk mendapati kartu ujian tidaklah mudah, mereka harus memiliki tiga tanda tangan di kwitansi yang diberikan oleh pihak admninistrasi. Itu artinya para mahasiswa harus melewati tiga sosok pagar betisterlebih dahulu. Ketiganya adalah kepala asrama, kepala Perpustakaan, dan tanda tangan Bendahara.

3. Merencanakan Belajar Kelompok

Saat menemukan materi yang tak bisa dipahami, mahasiswa biasanya secara naluri memilih belajar bersama untuk mempersiapkan ujian.
Halaqoh (kelompok) diskusi akan sangat mudah kita temui di asrama, masjid maupun di ruang terbuka. Di waktu siang, malam , bahkan pagi sebelum bunyi lonceng tanda masuk kelas sebelum ujian.

4. Begadang

Banyak mahasiswa yang masih memberlakukan metode SKS (sistem Kebut Semalam) alias metode dadakan. Sehingga saat masa UAS, banyak mahasiswa rela begadang untuk bisa menguasai materi yang diujikan.

5. Rentan Mengeluh

Di masa UAS, mahasiswa cenderung banyak mengeluh, mulai materi yang sulit dan banyak, dosen pelit nilai, hingga pengawas ujian yang galak.

Telah menjadi suatu keniscayaan bagi seorang muslim untuk melewati tahapan ujian dalam hidupnya. Ujian ini berfungsi sebagai tempaan untuk  jiwanya. Hal ini adalah suatu ketentuan untuk meneguhkan keyakinan orang-orang yang beriman pada tugas kewajiban yang harus ditunaikannya. Sehingga, akhirnya setelah mereka mengalami ujian, tentu akan terbukti tangguh dan merasa berat untuk berkhianat kepada Islam, karena mengingat pengorbanan yang telah dilakukannya.

Aqidah yang diperoleh dengan gampang tanpa ujian, akan mudah pula bagi penganutnya untuk meninggalkannya bila suatu ketika terkena ujian. Semakin berat ujian dan pengorbanan, akan makin meninggikan nilai aqidah keyakinan dalam hati dan jiwa penganutnya.

Bahkan, makin besar penderitaan dan pengorbanan yang diminta suatu aqidah, bertambah berat pula bagi seseorang untuk berkhianat atau meninggalkannya.

Allah berfirman dalam surah al-Baqarah [2] ayat 155-157 :

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ (155) الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ (156) أُولَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ (157)

“ Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. “ (Al-Baqarah [2] : 155-157)

*/ Ibnu Sahl / STISHID 

Berita ini juga dapat dibaca melalui Android. Segera Update aplikasi STISHID untuk Android . Install/Update Aplikasi STISHID Android Anda Sekarang !

Share

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp