Diskusi Manajemen Daurah Tahfizh al-Qur’an dengan Mudir PesantrenTahfidz Ruhama Bogor


STISHID — Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah (STIS) Hidayatullah Balikpapan menggelar Diskusi Manajemen Daurah Tahfizh al-Qur’an, 9 Rabi’ul Akhir 1437H (Jumat, 20/1/2016).

Diskusi diselenggarakan di Meeting Room Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan dengan menghadirkan ustadz MD Karyadi, Lc. sebagai pemateri. [ Baca selengkapnya : Mahasiswa Menghafal 1 Juz per Semester Dinilai Terlalu Sedikit ]

Di hadapan dosen dan pengurus STIS, Karyadi menyatakan salut dan memberi apresiasi atas keinginan kuat mahasiswa STIS dalam menghafal al-Qur’an.

Terlebih nantinya para lulusan STIS tersebut ditugaskan untuk berdakwah membina masyarakat di daerah.

Namun menurut penggagas Daurah 60 Hari Hafal al-Qur’an 30 Juz, semangat saja tak cukup dalam berbuat kebaikan.

“Menghafal al-Qur’an itu butuh metode yang baik agar hasil yang dicapai juga bisa maksimal,” ungkap Karyadi.

Diharapkan, dengan metode menghafal yang tepat, target hafalan mahasiswa bisa meningkat dibanding sebelumnya.

Menurut Karyadi, sebagai calon juru dakwah, para mahasiswa hendaknya dibekali ilmu dan skill yang maksimal. Termasuk di dalamnya adalah hafalan al-Qur’an yang baik dan lancar.

“Ini menjadi tanggung jawab bersama dalam menyiapkan seluruh bekal yang dibutuhkan itu,” ucap mudir Pondok Pesantren Ruhama, Bogor Jawa Barat tersebut.

“Di antara bekal itu, (hafalan) al-Qur’an inilah yang paling utama,” imbuh Karyadi kembali.

Dalam diskusi yang berlangsung dua jam lebih tersebut, Karyadi juga menjelaskan perbandingan antara metode menghafal al-Qur’an secara tradisional dan metode menghafal ala daurah.

Pola tradisional, lanjut Karyadi, menjadikan mahasiswa hanya diberi waktu tertentu untuk menghafal. Misalnya, setiap bakda Shubuh mahasiswa diwajibkan menyetor hafalan.

“Kalau pola menghafalnya begini, wajar jika mahasiswa kesulitan menghafal. Sebab tak ada waktu khusus yang fokus untuk menghafal,” papar Karyadi.

Untuk itu ustadz yang pernah memangku amanah ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Jabodebek ini menyarankan STIS mengubah metode menghafal yang digunakan.

Sekurangnya, kata Karyadi, STIS meluangkan waktu minimal selama dua pekan untuk mengadakan daurah khusus menghafal al-Qur’an.

‘Idealnya selama dua bulan khusus untuk daurah menghafal,“ usul Karyadi.

“Selama itu tak ada aktifitas lain selain fokus menghafal al-Qur’an saja,” ucap Karyadi memberi solusi.

Dikatakan, daurah yang dimaksud memiliki empat target sekaligus menjadi keunggulan daurah.

Poin pertama adalah tercapainya target hafalan peserta sebelum daurah berakhir. Kedua, daurah menjadi sarana perekrutan kader atau anggota baru untuk melanjutkan acara serupa di tempat masing-masing.

Ketiga, mengenalkan manhaj dakwah Sistematika Nuzul Wahyu (SNW) kepada seluruh peserta daurah. Hal itu ditempuh dengan berbagai materi pengantar tentang al-Qur’an dan mukjizat-mukjizatnya.

Sedang target keempat, untuk membuktikan bahwa al’Qur’an itu sangat mudah untuk dihafal dan dipelajari oleh kalangan manapun.

“Inilah bentuk dakwah paling efektif untuk mendakwahkan al-Qur’an,” pungkas Karyadi menutup.*/ Ibnu Sahl / STISHID

Berita ini juga dapat dibaca melalui Android. Segera Update aplikasi STISHID untuk Android . Install/Update Aplikasi STISHID Android Anda Sekarang !

Share

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp