Menumbuhkan Growth Mindset untuk Menyongsong Indonesia Emas 2045

stishid.ac.id– Semangat belajar dan optimisme memenuhi Masjid Nurul Mukhlisin, STIS Hidayatullah Balikpapan, Selasa (30/6/2026). Ratusan mahasiswa, mahasiswi, beserta jajaran dosen mengikuti kuliah umum yang menghadirkan Prof. Dr. Mashur Razak, S.E., M.M., Guru Besar sekaligus Direktur Program Magister Komputer Universitas Handayani Makassar.

Dikenal sebagai akademisi yang aktif di berbagai organisasi dan memiliki pengalaman profesional yang luas, Prof. Mashur membawakan tema “Membangun Mentalitas Growth Mindset dan Entrepreneurial Spirit untuk Meraih Peluang di Era Indonesia Emas 2045.” Dalam paparannya, Prof. Mashur mengajak seluruh peserta untuk memahami bahwa kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan atau keterampilan semata, tetapi justru diawali dari cara seseorang berpikir.

Ia mengutip gagasan psikolog Carol S. Dweck, yang menyatakan bahwa “hal yang lebih penting daripada keterampilan adalah pola pikir.” Menurutnya, keterampilan memang dapat dipelajari, tetapi tanpa pola pikir yang terus berkembang, seseorang akan sulit mencapai potensi terbaiknya.

“Orang yang memiliki growth mindset akan selalu mencari cara ketika menghadapi kegagalan. Ia mengevaluasi, memperbaiki strategi, lalu mencoba kembali hingga berhasil. Sebaliknya, orang dengan fixed mindset memilih berhenti saat gagal karena menganggap kemampuannya sudah mentok,” jelasnya.

Ia kemudian memberikan ilustrasi sederhana. Seorang mahasiswa yang gagal dalam suatu kompetisi bukan berarti tidak mampu. Dengan growth mindset, ia akan memperbaiki persiapan, mencari pengalaman baru, dan mencoba lagi pada kesempatan berikutnya. Namun, jika memilih menyerah setelah kegagalan pertama, itulah yang disebut sebagai fixed mindset.

Suasana kuliah umum semakin hidup ketika pembahasan berlanjut pada pentingnya entrepreneurial spirit. Menurut Prof. Mashur, jiwa kewirausahaan memiliki hubungan yang sangat erat dengan growth mindset.

Ia mencontohkan masih banyak masyarakat yang memiliki pola pikir bahwa menjadi pegawai negeri merupakan satu-satunya jalan menuju kehidupan mapan. Padahal, kenyataannya jumlah pelamar yang sangat besar tidak sebanding dengan formasi yang tersedia.”

Mindset kita harus diubah. Jangan hanya berpikir mencari pekerjaan, tetapi mulai berpikir bagaimana menciptakan pekerjaan,” ungkapnya.

Ia kemudian membandingkan kondisi Indonesia dengan Amerika Serikat. Persentase pelaku usaha di Amerika Serikat mencapai sekitar 11% dari jumlah penduduk, sedangkan Indonesia masih berada di kisaran 1,59%. Padahal, sebuah negara dikatakan memiliki fondasi ekonomi yang kuat apabila jumlah wirausahawannya telah mencapai sedikitnya 2% dari total populasi.Untuk memperkuat argumentasinya, Prof. Mashur menghadirkan sejumlah kisah tokoh dunia yang sukses melalui dunia usaha. Salah satunya adalah Bill Gates, pendiri Microsoft, yang mampu membangun kekayaan luar biasa melalui inovasi, keberanian mengambil risiko, serta kemampuan melihat peluang.

Menurutnya, kesempatan untuk berhasil selalu terbuka bagi siapa saja yang berani mengubah pola pikir dan terus belajar.

“Keterampilan dapat dipelajari, tetapi semuanya berawal dari pola pikir. Ketika mindset kita bertumbuh, kita tidak hanya mampu melihat peluang, tetapi juga mampu menciptakan peluang bagi diri sendiri dan orang lain. Itulah bekal penting menuju Indonesia Emas 2045,” ujar Prof. Dr. Mashur Razak.

Sesi diskusi berlangsung interaktif. Salah satu peserta, Ahmad, mengajukan pertanyaan mengenai apakah mindset seseorang dapat diubah.Menanggapi hal tersebut, Prof. Mashur menjelaskan bahwa pola pikir bukanlah sesuatu yang bersifat tetap.

“Mindset sangat bisa diubah karena berada dalam kendali diri kita sendiri. Ia dapat dibentuk melalui kebiasaan belajar, pengalaman, serta kemauan untuk terus berkembang,” jelasnya.

Pertanyaan berikutnya menyentuh isu kesempatan bagi mahasiswa perguruan tinggi swasta. Menurut beliau, kesempatan setiap orang tetap sama selama memiliki kompetensi dan kemauan belajar.

Ia mencontohkan Harvard University, yang merupakan perguruan tinggi swasta namun mampu menjadi salah satu universitas terbaik di dunia. Hal tersebut membuktikan bahwa kualitas tidak ditentukan oleh status negeri atau swasta, melainkan oleh budaya akademik dan kualitas sumber daya manusianya.

Menjelang penutupan, Prof. Mashur mengajak seluruh peserta untuk ikut berkontribusi mengurangi angka pengangguran di Indonesia yang masih mencapai jutaan orang. Salah satu solusi yang dapat dilakukan generasi muda adalah menumbuhkan growth mindset sehingga lahir lebih banyak entrepreneur yang mampu membuka lapangan pekerjaan.

“Jika semakin banyak anak muda menjadi pencipta peluang, maka semakin banyak pula masyarakat yang memperoleh kesempatan bekerja. Di situlah peran mahasiswa dalam membangun masa depan bangsa,” pesannya.

Kuliah umum ditutup dengan penyerahan cenderamata dari STIS Hidayatullah Balikpapan kepada Prof. Dr. Mashur Razak, dilanjutkan sesi foto bersama yang berlangsung penuh keakraban.Salah seorang peserta, Balqies, mahasiswi Semester VI Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (HES), mengaku memperoleh perspektif baru setelah mengikuti kuliah umum tersebut.

“Saya menyadari bahwa keberhasilan tidak ditentukan oleh tempat kita kuliah, tetapi oleh bagaimana kita membangun pola pikir untuk terus belajar, bangkit setelah gagal, dan berani mengambil peluang. Materi hari ini sangat memotivasi saya untuk mulai berpikir sebagai pencipta solusi, bukan hanya pencari pekerjaan,” tuturnya.

Kuliah umum ini meninggalkan pesan yang kuat bagi seluruh peserta. Di tengah derasnya perubahan zaman dan tantangan menuju Indonesia Emas 2045, mahasiswa tidak cukup hanya dibekali ilmu pengetahuan. Mereka juga perlu menanamkan growth mindset dan membangun entrepreneurial spirit agar mampu menjadi generasi yang kreatif, adaptif, serta berani menciptakan peluang bagi kemajuan diri, masyarakat, dan bangsa.

Antria/Media STIS Hidayatullah