Perempuan Berdaya, Keluarga Terjaga: Sosialisasi Regulasi Perlindungan Perempuan di STIS Hidayatullah Balikpapan

stishid.ac.id— Upaya membangun kesadaran tentang pentingnya perlindungan perempuan terus digaungkan melalui kegiatan Sosialisasi Regulasi Perlindungan Perempuan Kota Balikpapan Tahun 2026 yang dilaksanakan pada Rabu, 15 April 2026, di Aula STIS Hidayatullah Balikpapan. Kegiatan ini menghadirkan pemateri Nurul Mahmudah, M. Psi dan diikuti oleh mahasiswi, guru, dosen, serta ibu-ibu dari berbagai kalangan.

Suasana aula berlangsung hangat namun penuh perhatian ketika pembahasan mengenai berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan mulai dipaparkan. Dalam materinya, Nurul Mahmudah, M. Psi menjelaskan bahwa kekerasan tidak selalu berbentuk fisik yang tampak secara kasat mata, tetapi juga hadir dalam bentuk psikologis, seksual, hingga penelantaran yang sering kali luput disadari masyarakat.

Ia menerangkan bahwa kekerasan fisik dapat memicu trauma dan fear conditioning yang membekas dalam diri korban. Sementara kekerasan psikologis seperti gaslighting, penghinaan, dan manipulasi dapat menyebabkan depresi, kecemasan, hingga hilangnya rasa percaya diri. Adapun kekerasan seksual meninggalkan trauma mendalam yang berpengaruh pada identitas diri korban, sedangkan penelantaran berdampak besar terhadap perkembangan emosi dan sosial anak.

Dalam penyampaiannya, Nurul Mahmudah, M. Psi menekankan bahwa banyak tindakan kekerasan terjadi karena pola yang diwariskan tanpa disadari sejak kecil.

“Anak yang tumbuh dalam luka sering kali membawa pola itu hingga dewasa. Ketika seseorang tidak belajar mengenali dan menyembuhkan dirinya, ia bisa tanpa sadar mengulangi pola kekerasan yang pernah diterimanya,” ujar Nurul Mahmudah, M. Psi.

Ia juga menjelaskan bahwa sebagian masyarakat masih menganggap bentakan, amarah berlebihan, atau kata-kata merendahkan sebagai hal biasa dalam mendidik maupun berkomunikasi. Padahal, pola hubungan yang tidak sehat seperti posesif, mengontrol pasangan, serta menormalisasi kemarahan merupakan bentuk kekerasan yang dekat dengan kehidupan perempuan sehari-hari.

Menurutnya, cara seseorang berelasi saat ini dapat menjadi gambaran rumah tangga di masa depan. Karena itu, kesiapan berumah tangga tidak hanya berbicara soal usia atau materi, tetapi juga mencakup kestabilan emosi, kemampuan komunikasi sehat, penyelesaian konflik, serta kesiapan menjadi istri dan ibu.

“Perempuan berdaya bukan hanya tentang pendidikan atau pekerjaan, tetapi juga kemampuan mengelola emosi, mengenali luka diri, dan membangun hubungan yang sehat. Ketahanan mental adalah benteng utama dalam mencegah kekerasan,” tambah Nurul Mahmudah, M. Psi.

Selain membahas perlindungan diri, peserta juga diajak memahami peran perempuan dalam mencegah kekerasan di lingkungan sekitar, salah satunya dengan menjadi teman yang aman bagi korban dan tidak menyalahkan mereka. Materi mengenai pencegahan psikologis turut disampaikan, meliputi pentingnya ketahanan mental, keyakinan diri, kemampuan mengelola emosi, serta hubungan yang sehat antara anak dan orang tua.

Salah satu peserta, Rosyidah, mengaku kegiatan tersebut membuka sudut pandang baru baginya mengenai realitas kekerasan yang terjadi di tengah masyarakat.

“Kegiatan ini membuka wawasan bahwa di zaman sekarang kekerasan seksual bisa datang dari orang terdekat sehingga kita bisa lebih berhati-hati, tidak hanya waspada dari orang luar tapi dari keluarga kita juga,” ungkap Rosyidah.

Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan tidak hanya memahami bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan, tetapi juga memiliki keberanian untuk membangun lingkungan yang lebih aman, sehat, dan penuh empati. Sosialisasi tersebut menjadi pengingat bahwa perlindungan perempuan bukan hanya tanggung jawab individu, melainkan tanggung jawab bersama dalam membangun generasi dan keluarga yang lebih baik.

Antria