Saat Masa Depan Terasa Samar, Iman Menjadi Kompas: Refleksi Quarter-Life Crisis di Apel Pagi STIS

stishid.ac.id— Suasana pagi yang sejuk di depan Kampus STIS Hidayatullah Balikpapan menjadi saksi terselenggaranya apel pagi yang diikuti oleh seluruh dosen dan mahasiswi, Senin (1/6/2026). Kegiatan rutin ini menghadirkan pemateri, Sitti Mashita Masykur, Lc., M.E yang membawakan tema “A Quarter-Life Crisis”, sebuah tema yang dekat dengan realitas kehidupan mahasiswa dan generasi muda saat ini.

Dalam penyampaiannya, Ustadzah Sitti Mashita menjelaskan bahwa quarter-life crisis merupakan fase yang sering dialami seseorang ketika memasuki usia dewasa muda. Pada fase tersebut, seseorang kerap merasa bingung terhadap masa depan, karier, pendidikan, hingga tujuan hidup yang ingin dicapai. Namun, menurut beliau, kondisi tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti melangkah atau mengabaikan amanah yang sedang dijalankan.

“Ketika berada pada fase quarter-life crisis, jangan sampai kita larut dalam kekhawatiran yang berlebihan. Tetap jalankan tanggung jawab yang ada, terutama sebagai mahasiswi yang sedang menempuh pendidikan. Fokuslah menyelesaikan studi dengan sebaik-baiknya dan jangan terlalu banyak overthinking terhadap hal-hal yang belum tentu terjadi. Percayalah bahwa Allah telah menyiapkan jalan terbaik bagi hamba-Nya yang terus berikhtiar,” pesan beliau.

Materi yang disampaikan mengajak para peserta untuk memandang setiap tantangan hidup sebagai bagian dari proses pendewasaan diri. Dengan memperkuat hubungan kepada Allah, memperbaiki manajemen diri, serta menjaga semangat belajar, seseorang dapat melalui masa-masa penuh ketidakpastian dengan lebih tenang dan optimis.

Salah satu mahasiswi semester 6 prodi Hukum Ekonomi Syari’ah Nurul Mau’nah, mengaku mendapatkan banyak pelajaran dari materi yang disampaikan pada apel pagi tersebut.

“Materi ini sangat relevan dengan kondisi mahasiswa saat ini. Terkadang kami merasa khawatir terhadap masa depan dan berbagai target yang ingin dicapai. Namun, dari kajian pagi ini saya belajar bahwa yang terpenting adalah fokus pada proses, menjalankan tanggung jawab sebagai mahasiswi, serta tetap berprasangka baik kepada Allah terhadap setiap ketentuan-Nya,” ungkap Nurul.

Apel pagi berlangsung dengan khidmat dan penuh perhatian dari seluruh peserta. Tema yang diangkat tidak hanya memberikan motivasi, tetapi juga menjadi pengingat bahwa setiap fase kehidupan memiliki tantangan yang perlu dihadapi dengan kesabaran, keyakinan, dan usaha yang sungguh-sungguh.

Pagi itu, di tengah langkah para mahasiswi yang kembali menuju ruang-ruang perkuliahan, terselip harapan baru untuk menjalani masa muda dengan lebih tenang. Sebab terkadang, bukan jawaban atas semua pertanyaan yang dibutuhkan, melainkan keberanian untuk terus melangkah sambil mempercayai bahwa setiap proses yang dijalani hari ini sedang mengantarkan pada masa depan yang telah Allah persiapkan dengan sebaik-baiknya.

Sitti Mashita Masykur, Lc., M.E (WAKA IV Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah Hidayatullah Balikpapan)