Transformasi Kurikulum Berbasis OBE: STIS Hidayatullah Balikpapan Perkuat Implementasi Panca Dharma

stishid.ac.id — Dalam upaya memperkuat mutu akademik dan menyelaraskan arah pengembangan kurikulum, STIS Hidayatullah Balikpapan menggelar Workshop Outcome Based Education (OBE) pada 28 Sya’ban 1447 H/16 Februari 2026. Kegiatan ini dilaksanakan di Meeting Room Kampus Putri STIS Hidayatullah Balikpapan dan diikuti oleh 9 dosen Manajemen STIS Hidayatullah Balikpapan.

Workshop ini menghadirkan narasumber dari Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda, yakni Ibu Siti Khumaidatul Umaroh, S.Pd.I., M.A., yang merupakan Wakil Dekan Fakultas Psikologi. Dengan pengalaman akademik dan manajerial yang dimilikinya, beliau membagikan wawasan strategis tentang pentingnya transformasi kurikulum berbasis OBE di perguruan tinggi.

Mengusung tema “Transformasi Kurikulum Berbasis OBE: Menjawab Tantangan Implementasi Kurikulum Panca Dharma”, kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus perumusan langkah konkret bagi STIS dalam mengintegrasikan pendekatan OBE ke dalam sistem pembelajaran.

Secara konseptual, Outcome Based Education (OBE) merupakan pendekatan pendidikan yang berfokus pada capaian hasil (learning outcomes), bukan semata-mata pada proses pembelajaran. Dalam paradigma ini, seluruh perencanaan kurikulum, metode pembelajaran, hingga sistem evaluasi dirancang secara sistematis untuk memastikan mahasiswa benar-benar mencapai kompetensi yang telah ditetapkan.

Workshop ini diselenggarakan sebagai respons atas kebutuhan institusi untuk melakukan penyesuaian kurikulum agar lebih adaptif terhadap dinamika regulasi pendidikan tinggi, tuntutan akreditasi, serta kebutuhan masyarakat dan dunia kerja. Sebagai institusi yang mengusung Kurikulum Panca Dharma, STIS Hidayatullah Balikpapan memandang penting adanya penyelarasan antara nilai-nilai dasar kelembagaan dengan pendekatan kurikulum yang terukur dan berbasis capaian.

Dalam sesi pemaparan materi, narasumber menekankan bahwa implementasi OBE tidak cukup berhenti pada perubahan format dokumen. Transformasi sejati terletak pada perubahan cara berpikir dosen dalam merancang pengalaman belajar mahasiswa. Setiap mata kuliah harus memiliki kontribusi yang jelas terhadap profil lulusan, dengan indikator keberhasilan yang terukur serta asesmen yang selaras.

Lebih lanjut, peserta diajak memahami pentingnya constructive alignment, yakni keselarasan antara capaian pembelajaran, aktivitas belajar, dan metode penilaian. Tanpa keselarasan tersebut, kurikulum hanya berjalan secara administratif tanpa berdampak signifikan terhadap kompetensi lulusan.

Di tempat terpisah, Ketua STIS Hidayatullah Balikpapan, Ustadz M. Rizky Kurnia Sah, S.H.I., M.E., menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda yang telah menjadi mitra strategis STIS.

“Terima kasih kami haturkan kepada rekan mitra kita Fakultas Psikologi Untag Samarinda yang bersedia mendampingi pada prospek penguatan mutu dan penyelarasan kurikulum STIS Hidayatullah. Insya Allah kerja sama akan kita wujudkan dalam program lain di bidang penelitian maupun pengabdian masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu, narasumber workshop juga menyampaikan kesan positif terhadap proses diskusi yang berlangsung.

“Merupakan sebuah kehormatan bagi saya dapat berdiskusi dan berbagi dalam workshop penyusunan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) bersama tim pengembang kurikulum STIS Hidayatullah Balikpapan, khususnya dari Prodi Hukum Keluarga Islam dan Ekonomi Syariah. Seluruh tim menunjukkan kesungguhan serta komitmen yang kuat dalam merancang kurikulum. Diskusi yang terbangun sangat produktif dan mencerminkan semangat kolektif untuk menghadirkan kurikulum yang selaras antara profil lulusan, CPL, CPMK, hingga sistem asesmen yang terintegrasi.”

Ia juga menilai bahwa STIS Hidayatullah sebagai perguruan tinggi di bawah naungan pesantren Hidayatullah memiliki potensi yang luar biasa. Nilai-nilai keislaman, pembinaan karakter, serta kultur kaderisasi yang kuat menjadi fondasi strategis dalam membangun identitas lulusan. Potensi tersebut perlu diterjemahkan secara sistematis dalam desain kurikulum, mulai dari visi dan misi, profil lulusan, capaian pembelajaran yang terukur, hingga keselarasan dengan kebutuhan masyarakat, regulasi, asosiasi keilmuan, dan tuntutan pasar kerja. Dengan analisis kebutuhan yang komprehensif, lulusan diharapkan tidak hanya unggul secara karakter, tetapi juga kompeten, adaptif, dan memiliki daya saing maksimal.

Ia pun berharap kolaborasi antara STIS Hidayatullah Balikpapan dan Fakultas Psikologi Universitas 17 Agustus 1945 Samarinda dapat terus diperkuat melalui program bersama dalam pengembangan kurikulum, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat sehingga tercipta sinergi yang saling menguatkan dan melahirkan program unggulan yang berdampak nyata bagi kedua institusi.

Wakil Ketua IV Bidang Akademik, Ustadzah Sitti Masitha Masykur, S.H., M.E., turut menegaskan “Kegiatan ini memberikan pemahaman yang lebih komprehensif bagi dosen dan pemangku kurikulum perguruan tinggi, khususnya di STIS, dalam merancang kurikulum dan pembelajaran berbasis OBE, terutama dalam penyusunan RPS yang selaras dengan capaian pembelajaran.:

Secara strategis, kegiatan ini diharapkan menjadi titik awal penguatan budaya mutu di lingkungan STIS Hidayatullah Balikpapan. OBE bukan sekadar pendekatan teknis, melainkan paradigma yang menempatkan mahasiswa sebagai subjek utama pendidikan. Keberhasilan institusi tidak lagi diukur dari banyaknya materi yang disampaikan, tetapi dari kualitas kompetensi yang benar-benar dikuasai lulusan.

Workshop ini menjadi pengingat bahwa setiap perubahan besar selalu dimulai dari ruang-ruang kecil yang penuh kesungguhan. Dari Meeting Room Kampus Putri, lahir tekad bersama para dosen untuk melangkah lebih terarah—demi masa depan mahasiswa, demi kemajuan institusi, dan demi kontribusi nyata bagi umat dan bangsa.

Qonita/MediaSTIS