Pesona Santri

 

Buya Hamka pernah mengatakan bahwa santri berasal dari kata satria. Satria artinya orang yang siap menderita untuk menegakkan kebenaran dan membela kepentingan orang banyak.

Setelah Allah tidak lagi mengutus nabi dan rasul-Nya untuk menyebarkan Islam ini maka ulama adalah ahli waris nabi yang meneruskan risalahnya. Santri adalah generasi penerus ulama yang disiapkan untuk meneruskan estafeta dakwah Islam.

Santri adalah calon ulama, kyai, ustad, tuan guru ataupun tengku yang mengemban amanah dakwah di tengah masyarakat. Merekalah yang diharapkan menjadi tulang punggung dakwah Islam yang mengendalikan dinamika tantangan zaman dengan bekal ilmu yang dimilikinya.

Oleh sebab itu santri dianggap pemuda yang suci. Terhindar dari maksiat dan alergi berbuat dosa. Secara standar manusia zaman sekarang, pemuda pacaran, berpakaian norak, main game, main internet, nonton film adalah sesuatu yang wajar. Namun bagi santri adalah pelanggaran besar yang mengurangi martabat santri.

Contohnya, bagi pemuda biasa bisa menjalankan shalat lima waktu sudah baik tapi untuk santri shalat lima waktunya harus berjamaah di masjid plus segala shalat sunnah rawatibnya. Bagi orang awam bisa membaca al-Qur’an sudah cukup tapi bagi santri harus bisa menghafal, menterjemahkan sebagian isi al-Qur’an.

Standar-standar tersebut kelihatannya berat dan sulit namun inilah nilai beda dan unggul dari seorang santri. Keberadaan santri sangat disegani dan dihormati bila bisa menjaga kehormatannya.

Menjadi santri bukan pekerjaan ringan. Karena santri bukan malaikat yang hidup tanpa nafsu. Justru santri adalah anak remaja yang nafsunya lebih dominan karena semangat ingin mencobanya sangat tinggi. Maka pesantren membentenginya dengan aturan-aturan, hukuman bagi yang melanggar dan apresiasi yang taat.

Pesantren ibarat aquarium dan santri adalah ikannya. Tidak ada aquarium yang diisi dengan ikan gabus, nila atau sepat, tentu semakin bagus aquarium semakin baik juga ikannya dan terpilih kualitasnya, warnanya indah dan menyenangkan untuk dipandang, seperti ikan emas, hias yang harga jutaan rupiah per ekor.

Oleh sebab itu santri bukan terkungkung dalam penjara suci tapi terlindungi fitrahnya dalam bingkai illahi yaitu pesantren. Sebuah tempat yang sangat peduli dengan pelaksanaan ibadah dan amal shaleh, berusaha untuk mengantarkan santri-santri pada cita-cita yang mulia dan surga menjadi tujuan akhirnya. Wallahu a’lam bish Shawwab.*/Abdul Ghofar Hadi / Dosen STIS Hidayatullah

Berita ini juga dapat dibaca melalui Android. Segera Update aplikasi STISHID untuk Android . Install/Update Aplikasi STISHID Android Anda Sekarang !

Share

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp