Generasi Rabbani

STISHID – Selain mengemban misi tauhid, syariat Islam juga mengusung ajaran menjadikan manusia sebagai generasi rabbani. Al-Hasan al-Bashri menerangkan rabbani adalah kumpulan orang-orang bertakwa yang ahli ibadah. Sedang Ibnu Abbas mengurai rabbani sebagai bentuk derivasi (turunan kata) dari “Rabb” atau “Murabbi”. Yaitu orang yang mendidik dan memelihara manusia dalam kebaikan, mulai dari hal-hal terkecil hingga kepada perkara kebaikan yang besar.

Lebih jauh Abu Ja’far at-Thabari menambahkan, keimanan yang produktif mutlak menuntut lebih dari sekedar pengakuan semata. Sebab Allah tak lagi menyuruh “qulu” (ucapkanlah) tapi langsung mengatakan “kunu” (jadilah). Allah berfirman, “… Akan tetapi (ia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya” (Ali Imran [3]: 79).

Kiat Menjadi Umat Rabbani

Sebagai ajaran yang datang dari Dzat Yang Maha Adil, syariat Islam tak mengenal adanya perbuatan yang dilarang kecuali hal itu mudharat bagi manusia. Sebagaimana seluruh perintah yang ada niscaya bermanfaat bagi mereka dan telah dipaparkan secara detail. Bahkan tak jarang seorang Muslim merasa begitu dipermudah oleh Allah dalam menjalani tuntunan  hidup ini.

Dalam ayat di atas, Allah menjabarkan langkah mudah meraih “level” rabbani tersebut. Ia bisa diperoleh dengan cara mengajarkan dan mendakwahkan agama ini sebagai follow-up dari semangat mempelajari al-Qur’an.

Iman yang produktif –sekali lagi- tak mungkin membiarkan pemiliknya hanya bermalas-malasan. Dengan misi yang begitu mulia sebagai “rahmatan lil alamin” dan “kaffatan linnas” sejatinya menjadikan seseorang tak bisa tidur nyenyak gara-gara memikul amanah yang begitu berat.

Dalam ayat di atas, Allah kembali menegaskan dengan menggandeng kata mengajarkan al-Qur’an (tu’allimuna) dan mempelajarinya (tadrusuna). Sebagai hujjah penguat bagi siapa saja yang ingin meraih predikat rabbani itu.

Sebagai seorang Muslim, iman, ilmu, dan amal (dakwah) adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Ibarat suatu bangunan, masing-masing punya makna yang berbeda. Tapi semuanya saling menguatkan tanpa bisa dipilah sendiri-sendiri. Keimanan yang kokoh hanya bisa lahir dari ilmu yang memadai.

Sebaliknya, ilmu bisa menjadi bumerang jika tak berasas pada keyakinan yang benar. Sebagaimana ilmu dan iman disebut bermanfaat jika ia teraplikasi dalam bentuk amal shalih dan dakwah kepada kebaikan.

Menurut pengarang Tafsir Fath al-Qadir, ayat ini juga menjadi celaan bagi seseorang yang hanya pandai berbicara tanpa mau mengamalkan ucapannya. Ia hanya puas dengan mengilmui ajaran Islam sedang ia sendiri menolak berislam dalam kehidupannya.

Ilmu yang demikian –menurut Imam as-Syaukani- alih-alih mengantar pemiliknya menjadi sosok rabbani, ia justru menjadi sebab awal kesengsaraan dalam hidupnya di dunia dan akhirat nanti.
Alhasil cukuplah bagi orang beriman untuk memaknai kembali hadits Nabi,  “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” Pertanyaannya, dengan garansi mulia itu, adakah diantara kita yang tertarik ? */MasykurMahasiswa Pasca Sarjana Universitas Ibnu Kholdun Bogor.

Share

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp