STIS Hidayatullah Bekali Mahasiswa dengan Jiwa Kepemimpinan dan Seni Kepengasuhan

stishid.ac.id— Menjadi seorang pemimpin bukan sekadar mampu memberi arahan. Lebih dari itu, seorang pemimpin dituntut mampu menjadi teladan, mendengarkan, memahami, sekaligus membina dengan ketegasan yang tetap dilandasi kasih sayang.

Semangat itulah yang mewarnai kegiatan Training Leadership dan Kepengasuhan yang diselenggarakan Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah pada Sabtu, 3 Oktober 2026, di Aula STIS. Mengusung tema “Memimpin dengan Keteladanan, Membina dengan Ketegasan dan Kasih Sayang”, kegiatan ini diikuti mahasiswa semester 5 Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (HES) dan Hukum Keluarga (HK).

Kegiatan ini menjadi ruang pembekalan bagi mahasiswa yang akan menjalankan amanah kepengurusan, khususnya dalam lingkungan asrama. Mereka tidak hanya dibekali kemampuan memimpin, tetapi juga diajak memahami bahwa kepemimpinan adalah tentang bagaimana menghadirkan keteladanan dan membangun hubungan yang baik dengan orang-orang yang dibina.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan dan diawali dengan pembacaan Al-Qur’an, kemudian sambutan dari Wakil Ketua 4 STIS, Ustadzah Sitti Masitha Masykur, Lc., M.E. dilanjutkan dengan pembacaan doa, dan peserta memasuki empat sesi materi yang saling berkaitan.

Sesi pertama menghadirkan Ustadzah Feni Yuranoa, M.Si. dengan materi “Menjadi Pengurus yang Memimpin dengan Keteladanan.” Dalam sesi ini, peserta diajak melihat kembali hakikat seorang pengurus. Seorang musyrif atau musyrifah bukan sekadar penjaga aturan, melainkan juga dapat menjadi sosok seperti orang tua kedua dan kakak pembimbing bagi santri.

Pengurus dituntut mampu mengarahkan, mendengarkan, menjaga kenyamanan, sekaligus menciptakan suasana asrama yang kondusif untuk belajar dan beribadah. Karena itu, kepemimpinan tidak cukup hanya dengan kata-kata dan instruksi. “Seorang pengurus tidak cukup hanya mampu memerintah. Ia harus terlebih dahulu menjadi contoh, karena keteladanan adalah bahasa yang paling mudah dilihat dan dirasakan oleh orang yang dibina.”

Ustadzah Feni juga menekankan perubahan cara pandang seorang pengurus. Pengurus bukanlah “polisi asrama” yang hanya mencari kesalahan, tetapi hadir sebagai pelayan yang membantu santri memperbaiki diri dan berkembang.

Masih bersama Ustadzah Feni Yuranoa, M.Si., sesi kedua membahas “Komunikasi Efektif dan Seni Menegur dalam Kepengasuhan.” Peserta diajak memahami bahwa cara menyampaikan pesan sering kali sama pentingnya dengan isi pesan itu sendiri. Pilihan kata, ekspresi wajah, bahasa tubuh, posisi ketika berbicara, hingga nada suara dapat memengaruhi bagaimana sebuah nasihat atau teguran diterima.

Salah satu prinsip yang diperkenalkan adalah “praise in public, correct in private” memberikan apresiasi di depan umum dan menyampaikan koreksi secara pribadi.“ Menegur bukan untuk menunjukkan siapa yang salah, tetapi untuk membantu seseorang menemukan cara agar bisa menjadi lebih baik. Karena itu, teguran harus disampaikan dengan niat membina, bukan melampiaskan emosi.”

Peserta juga diperkenalkan dengan langkah menegur secara empat mata, mulai dari mengajak berbicara dengan santun, memvalidasi kondisi, menyampaikan fakta, mendengarkan alasan, hingga mencari solusi bersama. Dengan pendekatan tersebut, proses pembinaan diharapkan tidak berubah menjadi ruang yang membuat seseorang merasa dipermalukan, tetapi menjadi kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri.

Memasuki sesi ketiga, Ustadzah Siti Solekha Fathillah, S.H.I., M.M. menyampaikan materi “Manajemen Diri, Waktu, dan Pengambilan Keputusan Pengurus.” Peserta diajak memahami bahwa kepemimpinan berawal dari kemampuan mengelola diri. Seorang pengurus perlu mampu mengatur pikiran, emosi, sikap, kebiasaan, hingga tindakannya.

Empat pilar manajemen diri yang dibahas meliputi kesadaran diri, pengendalian diri, disiplin diri, dan tanggung jawab. Keempatnya menjadi bekal penting bagi mahasiswa yang harus membagi waktu antara kewajiban akademik dan amanah kepengurusan.

“Sebelum kita mengatur orang lain, kita harus belajar mengatur diri sendiri. Pengurus yang mampu mengelola waktu, emosi, dan tanggung jawabnya akan lebih siap menjadi teladan bagi lingkungan di sekitarnya.” Pembahasan kemudian berlanjut pada kemampuan menentukan prioritas serta mengambil keputusan. Setiap keputusan seorang pengurus perlu mempertimbangkan tujuan, informasi, risiko, dan dampaknya, dengan mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi.

Pada sesi keempat, Ustadzah Siti Solekha Fathillah, S.H.I., M.M. melanjutkan materi dengan tema “Manajemen Konflik dan Problem Solving dalam Asrama.” Konflik menjadi sesuatu yang tidak dapat sepenuhnya dihindari dalam kehidupan bersama. Namun, konflik tidak selalu harus dipandang sebagai sesuatu yang buruk. Dengan pengelolaan yang tepat, konflik justru dapat menjadi proses pembelajaran dan pendewasaan.Peserta dibekali cara menghadapi konflik dengan tetap tenang, mendengarkan seluruh pihak, berfokus pada masalah tanpa menyerang pribadi, serta mencari jalan keluar yang dapat diterima bersama. “Konflik tidak harus berakhir dengan permusuhan. Ketika kita mau mendengarkan, memahami, dan mencari solusi bersama, sebuah masalah justru dapat menjadi jalan untuk mendewasakan emosi dan cara berpikir.”

Dalam kehidupan asrama, seorang pengurus juga berperan sebagai mediator. Ia perlu mampu mendengarkan pihak-pihak yang terlibat, menjelaskan aturan dengan baik, serta mengarahkan penyelesaian masalah secara bijaksana dan penuh empati.

Selanjutnya yaitu “Belajar Memimpin dengan Hati”. Bagi peserta, materi yang disampaikan dalam kegiatan ini tidak berhenti sebagai pengetahuan di dalam ruangan. Empat sesi yang diberikan menjadi bekal untuk memahami bahwa menjadi pengurus berarti siap memikul amanah sekaligus berhadapan dengan beragam karakter manusia.

Salah seorang peserta, Rihaisyah, mahasiswa semester 5 HES, mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut memberikan perspektif baru tentang makna kepemimpinan dan kepengasuhan. “Dari kegiatan ini saya belajar bahwa menjadi pengurus bukan hanya tentang bagaimana membuat aturan atau menegur ketika ada kesalahan. Kita juga harus bisa menjadi contoh, mendengarkan, memahami kondisi orang lain, dan mencari solusi dengan cara yang baik.”

Menurutnya, materi tentang komunikasi dan manajemen konflik menjadi salah satu bagian yang penting karena dalam menjalankan amanah kepengurusan, perbedaan karakter dan persoalan di lapangan merupakan sesuatu yang mungkin ditemui. “Saya berharap ilmu yang didapat tidak hanya berhenti setelah kegiatan selesai, tetapi benar-benar bisa diterapkan ketika menjalankan amanah sebagai pengurus.”

Pada akhirnya, Training Leadership dan Kepengasuhan ini tidak sekadar berbicara tentang bagaimana menjadi pemimpin yang mampu mengarahkan. Lebih jauh, mahasiswa diajak memahami bahwa kepemimpinan adalah proses untuk belajar hadir, melayani, mendengarkan, dan menjadi teladan.

Dari keteladanan, komunikasi, manajemen diri, hingga penyelesaian konflik, seluruh materi bermuara pada satu tujuan: membentuk pengurus yang mampu menjalankan amanah dengan bijaksana.Sebab di balik setiap aturan yang harus ditegakkan, ada hati yang perlu dijaga. Di balik setiap teguran, ada pribadi yang sedang belajar. Dan di balik setiap amanah kepemimpinan, ada tanggung jawab untuk menjadi contoh bagi orang lain.

Antria/Media STIS