Jangan Bandingkan Dirimu dengan Perjalanan Orang Lain

stishid.ac.id— Suasana pagi di depan kampus STIS Hidayatullah diwarnai pesan reflektif dalam apel pagi yang diikuti oleh seluruh mahasiswi dan dosen, Senin (28/9/2026). Dalam kesempatan tersebut, Ustadzah Miftahul Jannah, S.H.I., M.P.I. menyampaikan nasihat tentang pentingnya menghargai proses diri dan tidak menjadikan pencapaian orang lain sebagai ukuran untuk menilai diri sendiri.

Dalam amanatnya, Ustadzah Miftahul Jannah mengingatkan bahwa setiap manusia memiliki jalan kehidupan yang berbeda. Perbedaan kemampuan, waktu, kesempatan, hingga tantangan membuat perjalanan setiap orang tidak dapat dibandingkan begitu saja.

Pesan utama yang disampaikan sederhana, tetapi dekat dengan kehidupan para mahasiswi jangan terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain.

“Jangan jadikan keberhasilan orang lain sebagai alasan untuk merendahkan diri sendiri. Jadikan keberhasilan mereka sebagai sumber inspirasi, bukan alasan untuk membenci diri sendiri,” tutur Ustadzah Miftahul Jannah dalam amanatnya.

Ia menjelaskan bahwa seseorang terkadang hanya melihat hasil yang dicapai orang lain tanpa mengetahui proses panjang yang telah dilaluinya. Nilai yang tinggi, hafalan Al-Qur’an yang banyak, prestasi, maupun pencapaian lainnya bisa jadi merupakan hasil dari kerja keras, kegagalan, dan perjuangan yang tidak terlihat.

Karena itu, seseorang tidak perlu merasa tertinggal hanya karena melihat orang lain lebih dahulu mencapai sesuatu.

“Jangan terus bertanya, ‘Mengapa saya belum seperti dia?’ Tetapi ubahlah pertanyaan itu menjadi, ‘Apa yang bisa saya perbaiki dari diri saya hari ini?’” pesannya kepada para mahasiswi.

Nasihat tersebut diperkuat dengan firman Allah dalam QS. An-Najm ayat 39:وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”

Ayat tersebut menjadi pengingat agar setiap orang lebih memperhatikan usaha dan proses yang sedang dijalani, bukan hanya hasil akhir.Ustadzah Miftahul Jannah juga mengajak para mahasiswi untuk tidak berkecil hati ketika langkah mereka terasa lambat. Menurutnya, perubahan tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Membaca beberapa halaman, menghafal beberapa ayat, atau memperbaiki satu kesalahan setiap hari merupakan bentuk usaha yang tetap memiliki arti.

“Perubahan besar bisa dimulai dari satu langkah kecil, tetapi langkah itu terus dilakukan setiap hari,” ungkapnya.

Pesan tersebut mendapat perhatian dari para mahasiswi yang mengikuti apel pagi. Salah satunya Nurul Hikmah, mahasiswi semester 5 Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (HES). Ia menilai nasihat yang disampaikan sangat dekat dengan kehidupan mahasiswa yang terkadang tanpa sadar membandingkan pencapaian dirinya dengan orang lain.

“Menurut saya, pesan yang disampaikan Ustadzah sangat mengena. Sebagai mahasiswa, terkadang kita tanpa sadar membandingkan diri dengan teman yang sudah lebih dulu berhasil. Dari apel pagi ini saya belajar bahwa setiap orang memiliki proses dan waktunya masing-masing. Yang penting bukan seberapa cepat kita sampai, tetapi bagaimana kita tetap berusaha dan memperbaiki diri,” ujar Nurul Hikmah.

Apel pagi tersebut menjadi ruang refleksi bagi para peserta di tengah rutinitas perkuliahan dan tuntutan untuk terus berkembang. Para mahasiswi diingatkan bahwa setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda, sehingga tidak semua pencapaian harus diraih dalam waktu yang sama.

Ada yang tumbuh lebih cepat, ada pula yang membutuhkan waktu lebih panjang. Ada yang lebih dahulu menemukan jalannya, sementara yang lain masih berproses mencari dan memperbaiki diri.

Namun, perbedaan tersebut bukan alasan untuk berhenti. Selama masih ada usaha, doa, kesabaran, dan kemauan untuk memperbaiki diri, setiap langkah tetap memiliki nilai.

Pada akhirnya, pesan yang disampaikan dalam apel pagi itu bukan sekadar tentang berhenti membandingkan diri, tetapi tentang belajar menghargai perjalanan sendiri. Jangan bandingkan dirimu dengan perjalanan orang lain.

Sebab, kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang telah mereka lalui sebelum sampai pada titik yang kita lihat hari ini. Begitu pula, kita tidak tahu sejauh apa perjalanan kita akan membawa kita di masa depan. Yang dapat dilakukan adalah terus berjalan, memperbaiki diri sedikit demi sedikit, dan menjadi lebih baik daripada diri kita yang kemarin.

Miftahul Jannah, S.H.I., M.P.I.