
stishid.ac.id– Di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat, kampus tidak cukup hanya menjadi tempat mahasiswa belajar dan menyelesaikan tugas akademik. Kampus juga dituntut menjadi ruang tempat lahirnya keberanian untuk berpikir, berdiskusi, dan menghadirkan gagasan yang memberi manfaat lebih luas. Pesan inilah yang mengemuka dalam Forum Arahan Ketua Umum DPP Hidayatullah bertajuk “Dari Kota Kelahiran Menuju Gerakan Mendunia: Meneguhkan Arah Gerakan, Memperkuat Kaderisasi, dan Membangun Peradaban” yang digelar di Aula Hidayatullah Karangbugis, Sabtu (1/8/2026).
Forum tersebut dihadiri jajaran pimpinan Hidayatullah Kalimantan Timur, para ketua lembaga, tokoh senior Hidayatullah, Pengurus Pemuda Hidayatullah Kalimantan Timur, Muslimah Hidayatullah (Mushida) Balikpapan, serta perwakilan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Putra dan Putri STIS Hidayatullah Balikpapan.
Mengawali forum, Ustaz Nasir memaparkan lima konteks dakwah peradaban Hidayatullah, yaitu mencetak kader, melahirkan lingkungan Islami, membangun tradisi berpikir, melahirkan institusi-institusi dakwah, serta memberikan pengaruh di tengah masyarakat. Kelima aspek tersebut menjadi bagian penting dalam membangun peradaban Islam yang kokoh.
Pembahasan kemudian bergerak pada realitas generasi muda, khususnya Generasi Z. Ketua Yayasan Hidayatullah Karangbugis, Ustaz Haji Malik, menyoroti karakter generasi yang memiliki standar dan ekspektasi tinggi, sementara umpan balik yang diterima terkadang belum sebanding dengan harapan tersebut.
Menanggapi fenomena tersebut, Ustaz Hizbullah menekankan pentingnya kemampuan organisasi melakukan quantum leap, mengorkestrasi berbagai potensi, serta memobilisasi sumber daya. Narasi besar organisasi perlu diterjemahkan menjadi strategi nyata agar mampu menjawab tantangan zaman dan karakter generasi yang terus berkembang.
Namun, perubahan tidak cukup hanya dengan strategi. Ia juga membutuhkan mentalitas perjuangan.
Ustaz KH. Narspi Arsyad, Lc. mengajak peserta kembali melihat semangat perjuangan pendiri Hidayatullah, Abdullah Said, yang tidak terikat oleh zona nyaman. Tantangan kader hari ini bukan semata keterbatasan fasilitas, tetapi keberanian untuk meninggalkan kenyamanan dan bergerak lebih luas.
Di antara berbagai lembaga yang menjadi bagian dari gerakan Hidayatullah, STIS Hidayatullah Balikpapan mendapat perhatian khusus sebagai lembaga yang diharapkan mampu mencetak kader intelektual sekaligus penggerak peradaban.
Dalam arahannya kepada Ketua STIS Hidayatullah Balikpapan, Ustaz M. Rizki Kurnia Sah, S.H.I., M.E., Ketua Umum DPP Hidayatullah menegaskan bahwa kampus harus menjadi ruang lahirnya gagasan, bukan sekadar tempat berlangsungnya proses akademik.

Produktivitas karya ilmiah dan budaya diskusi publik di lingkungan kampus masih perlu diperkuat. Sivitas akademika didorong untuk keluar dari pola pikir in the box dan berani menghadirkan gagasan out of the box.
Bagi mahasiswa, dorongan tersebut bukan sekadar tuntutan untuk menghasilkan karya akademik yang berbeda. Lebih jauh, ia menjadi ajakan agar proses belajar di kampus melatih mereka melihat persoalan dengan lebih luas, berani bertanya, berdiskusi, dan tidak takut menawarkan gagasan baru.
Hal tersebut juga dirasakan oleh Mutiara Hikmah, perwakilan DEMA STIS Hidayatullah Balikpapan. Baginya, forum tersebut menjadi ruang untuk melihat bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya tentang menyelesaikan pendidikan, tetapi juga tentang mempersiapkan diri untuk mengambil peran di tengah masyarakat.
“Arahan yang disampaikan menjadi pengingat bagi kami sebagai mahasiswa bahwa ilmu yang dipelajari tidak cukup hanya berhenti di ruang kelas. Kami perlu belajar berpikir lebih luas, berani menyampaikan gagasan, dan mempersiapkan diri agar nantinya bisa memberikan manfaat yang lebih besar untuk umat.”
Sorotan terhadap mahasiswa juga menyentuh pola berpikir yang dinilai masih terlalu sempit, mulai dari penyusunan skripsi hingga aktivitas organisasi. Padahal, sejarah Hidayatullah dibangun oleh tokoh-tokoh yang berani melampaui kebiasaan dan menghadirkan pemikiran visioner.
Dalam konteks Generasi Z, Ketua Umum DPP Hidayatullah mengingatkan bahwa manusia belajar melalui proses adaptasi, meniru, dan meneladani. Karena itu, ruang pembinaan harus dipenuhi dengan keteladanan dan gagasan yang baik.
“Jika sebuah wadah tidak diisi dengan air yang jernih, maka lambat laun akan terisi oleh air yang keruh.”
Pesan tersebut menjadi refleksi bahwa pembinaan generasi bukan sekadar menghadirkan aturan, tetapi memastikan lingkungan yang tersedia benar-benar mampu memberikan teladan, wawasan, dan ruang untuk bertumbuh.
Hidayatullah saat ini telah dikenal dan diakui oleh masyarakat. Tantangan berikutnya adalah bagaimana seluruh lembaga, termasuk STIS, mampu menghadirkan pengaruh yang lebih luas.
Untuk mewujudkannya, diperlukan dua pendekatan, yakni secara kuantitatif melalui perluasan jangkauan dan pemerataan dakwah, serta secara kualitatif melalui penguatan kompetensi sumber daya manusia.
Dalam konteks tersebut, STIS memiliki posisi strategis. Kampus tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan dengan kemampuan akademik, tetapi juga kader yang mampu membawa gagasan, membaca persoalan, dan mengambil peran nyata di tengah masyarakat.
Di penghujung forum, Ketua Umum DPP Hidayatullah mengajak seluruh peserta memperkuat interaksi, meningkatkan budaya literasi, serta membangun performa organisasi yang lebih baik. Pola pikir out of the box, menurutnya, akan lahir ketika ruang interaksi semakin luas.
Bagi Balikpapan, pesan tersebut menjadi semakin penting. Kota ini disebut sebagai show window Hidayatullah yang harus mampu menampilkan wajah terbaik organisasi.
Pada akhirnya, forum tersebut bukan hanya tentang bagaimana STIS menjadi lebih produktif secara akademik. Ada harapan yang lebih besar di baliknya agar dari ruang-ruang kelas, diskusi, organisasi, hingga karya ilmiah, lahir kader-kader yang tidak hanya mampu memahami persoalan, tetapi juga berani mengambil peran untuk menjawabnya.
Dari Balikpapan, gagasan itu diharapkan terus tumbuh. Sebab gerakan yang ingin mendunia selalu bermula dari kader-kader yang bersedia belajar, berpikir, bergerak, dan meninggalkan zona nyaman.
“Forum ini tidak boleh hanya menjadi tempat bertemu, menyampaikan wacana, atau mengeluhkan persoalan, tetapi melahirkan kesepakatan dan kesepahaman,” pungkas Ketua Umum DPP Hidayatullah.
Nurul Mau’nah Mahasiswi Semester 7 HES



