
stishid.ac.id – Target kepemimpinan STIS Hidayatullah diarahkan pada tercapainya Panca Dharma secara utuh. Dalam konteks ini, Ketua STIS menegaskan bahwa tidak ada benturan program kerja secara hakiki. Benturan yang sering muncul justru lahir dari cara pandang pengelolanya. Ketika terjadi irisan antar program, maka yang perlu dilakukan bukan menghilangkan salah satunya, melainkan menguatkan sinergi atau mengkolaborasikan program tersebut. Menuju visi besar institusi tidak mungkin dilakukan tanpa instrumen, namun perlu dipahami bahwa SOP dan tata tertib bersifat normatif, sementara keberhasilan implementasinya sangat ditentukan oleh manusia yang menjalankannya.
Tahun 2026 ditetapkan sebagai tahun awal fokus peningkatan mutu. Seluruh unit, khususnya di lingkungan STIS Putri, diarahkan untuk memahami dengan jelas ke mana arah pembinaan mahasiswa dan dosen akan dibawa. Program kerja harus disusun dengan satu tujuan utama, yaitu peningkatan kualitas mahasiswa dan dosen. Target besar tersebut dieksekusi secara bertahap selama empat tahun, dimulai dari capaian 25 persen pada tahun 2026 hingga mencapai 100 persen pada tahun 2030. Salah satu target strategis jangka panjang yang dicanangkan adalah terwujudnya zero insiden pelanggaran syariah di asrama pada tahun 2030, dengan capaian awal yang bersifat fundamental pada tahun 2026.
Dalam aspek prestasi, Ketua STIS menggarisbawahi pentingnya tahapan yang realistis, dimulai dari skala lokal, meningkat ke nasional, hingga internasional. Target puncak pada tahun 2030 adalah tercapainya dua prestasi di tingkat internasional. Untuk mewujudkan hal tersebut, setiap unit diminta menyusun kriteria yang jelas dan indikator yang terukur. Mutu perguruan tinggi ditempatkan sebagai sasaran utama dengan tata kelola sebagai puncaknya, yang diukur melalui Key Performance Indicator. Setiap indikator harus didukung oleh dokumen wajib seperti SOP dan tata tertib, serta dilandasi nilai dan dalil di setiap devisi. Dengan demikian, program kerja tidak lahir secara tiba-tiba, melainkan merupakan turunan dari standar mutu yang telah dirancang.
Fokus program tahun 2026 ditekankan pada mutu dan keterlaksanaan. Setiap program harus dapat dievaluasi dan menghasilkan dokumen yang jelas. Dalam konteks dosen, penguatan dilakukan melalui penyusunan portofolio kinerja yang mencakup mata kuliah dan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yang kemudian diukur melalui Indeks Profesi Dosen dan Indeks Kinerja Dosen. Sementara itu, mahasiswa diarahkan untuk memiliki portofolio ketercapaian akademik dan non-akademik sebagai kader, dengan target 100 persen keterlayanan dalam aspek pembelajaran, beasiswa, dan pembinaan.
Selain itu, setiap divisi diwajibkan memiliki produk dokumen yang nyata serta pengelolaan aset yang terukur, baik aset aktif maupun pasif. Hal ini penting agar kondisi keuangan dan sarana prasarana dapat diketahui secara pasti, dievaluasi setiap tahun, dan ditingkatkan kualitasnya secara berkelanjutan. Seluruh upaya ini dilakukan untuk menjaga satu visi bersama, agar arah pengembangan STIS tidak terpecah.Ketua STIS juga menjelaskan bahwa struktur kepemimpinan di STIS Hidayatullah terdiri atas empat level, yaitu pimpinan, wakil ketua, staf, dan mahasiswa. Struktur tersebut tidak dibangun atas dasar prestise, melainkan fungsi. Tantangan dalam relasi kelembagaan harus dihadapi dengan menjaga pola dan alur kepemimpinan yang sehat. Harapannya, setiap insan STIS tidak hanya unggul dalam bidang keilmuannya, tetapi juga matang dalam kepemimpinan.
Rapat Pra Raker ini menegaskan kembali bahwa program kerja bukan sekadar aktivitas tahunan, melainkan instrumen strategis untuk meningkatkan mutu, menjaga nilai, dan menggerakkan seluruh elemen STIS Hidayatullah menuju visi besar sebagai perguruan tinggi yang unggul, berkarakter syariah, dan berdampak nyata bagi umat.
Wasan



