
stishid.ac.id – Dalam rangka menyambut tahun baru Islam 1447 Hijriah, STIS Hidayatullah Balikpapan menghadirkan tausiyah penuh makna di Apel Pagi [16/6/2024] bersama Ustadz Masykur Suyuti, Lc., M.Pd.I. Beliau menyampaikan pesan spiritual mendalam yang bertumpu pada kisah dan keteladanan Nabi Ibrahim a.s sebagai figur sentral dalam sejarah tauhid.
Setiap fase kehidupan Ibrahim bukan hanya narasi sejarah, tetapi juga ladang hikmah dan inspirasi.Salah satu momen monumental dalam kisah Ibrahim adalah ketika beliau dilemparkan ke dalam api yang menyala-nyala. Namun atas izin Allah, api itu justru menjadi dingin dan menyelamatkan. Dari peristiwa ini, kita belajar bahwa dalam perjalanan tauhid, segala hal yang tampak sebagai bahaya atau kesulitan justru bisa menjadi pintu keselamatan dan kemuliaan.
Apa yang terlihat mengkhawatirkan di mata manusia, bisa jadi itulah jalan Allah untuk memudahkan syiar tauhid. Keyakinan yang kuat kepada Allah menjadi dasar perlawanan terhadap kezaliman dan sumber dari gagasan-gagasan besar. Tauhid bukan hanya keyakinan dalam lisan, tetapi jalan hidup yang penuh keberanian dan kesungguhan.
#Keyakinan sebagai Kunci Jalan Ilmu dan Perjuangan
Dalam konteks mahasiswa dan penuntut ilmu, Ustadz Masykur menekankan pentingnya menanamkan keyakinan dalam hati atas pilihan jalan yang ditempuh. Jika seseorang tidak yakin terhadap perjuangannya, maka sulit baginya untuk menyakinkan orang tua, masyarakat, apalagi mengajak orang lain kepada jalan kebaikan. Sebagaimana Ibrahim a.s tidak mungkin menyuarakan tauhid jika beliau sendiri masih ragu atas kebenaran yang dibawanya.
Keteguhan hati Ibrahim menjadi teladan bagi para mahasiswa untuk yakin terhadap proses pendidikan yang sedang dijalani. Kita di STIS memiliki berbagai kelebihan: lingkungan kondusif, komunitas pembelajar, serta nilai-nilai syariah yang hidup. Maka sangat tidak pantas jika kita yang merasakannya justru masih ragu terhadap jalan yang kita tempuh.
Bahkan, dibandingkan kondisi Ibrahim yang berada di gurun tandus tanpa fasilitas, tanpa publikasi dan media sosial, kita jauh lebih beruntung. Keyakinan beliau lahir bukan dari ilusi atau pencitraan, tetapi dari kesadaran mendalam tentang Allah dan risalah hidup. Maka, sudah semestinya kita juga menumbuhkan keyakinan itu dengan mengamati dan meresapi kebaikan-kebaikan nyata di sekitar kita.
#Menjadi Generasi Bahagia dan Membahagiakan
Seorang penuntut ilmu di STIS yang telah sampai semester 8 harus sudah mampu memproklamasikan dirinya sebagai manusia paling bahagia di kampus. Sebab hanya dengan kebahagiaan dan keyakinan, seseorang bisa bertugas dengan sepenuh hati ketika lulus sebagai alumni dan menjadi kader. Keraguan adalah penghalang terbesar dalam menyampaikan kebaikan.
Kebahagiaan itu sendiri bukan berasal dari fasilitas atau pujian, tetapi dari amal kebaikan yang dilakukan. Siapa yang paling banyak berbuat baik, dialah yang paling bahagia. Karena kebaikan akan senantiasa melahirkan kebaikan lain yang menguatkan hati dan memperkuat langkah dalam perjuangan.
Keyakinan yang tumbuh dari pengalaman, keterlibatan, dan cinta terhadap kampus akan membawa seseorang pada tingkat pengabdian tertinggi. Makin mengenal kampus ini, makin jatuh cinta padanya. Dan cinta itu menjadi energi untuk terus berbuat dan melayani umat melalui jalan ilmu.
#Jalan Ilmu, Jalan Orang-Orang
PilihanMengakhiri tausiyahnya, Ustadz Masykur mengutip hadis mulia: “Man salaka ṭarīqan yaltamisu fīhi ‘ilman, sahhala-llāhu lahu bihi ṭarīqan ilal-jannah.”Siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan mudahkan jalannya menuju surga. Ini menjadi pengingat bahwa perjalanan kita di STIS bukan sekadar studi, tetapi bagian dari jalan menuju ridha dan keselamatan Allah.
Takdir Allah telah menetapkan bahwa orang-orang pilihan akan diberi kemuliaan dan keselamatan dunia akhirat. Maka, menjadi bagian dari STIS adalah anugerah yang harus dijaga dan disyukuri. Tidak cukup hanya dengan hadir secara fisik, tetapi hadir dengan hati dan keyakinan penuh.
Semoga semangat tahun baru Hijriah ini menjadi momentum refleksi dan pembaruan niat bagi seluruh civitas akademika STIS Hidayatullah Putri Balikpapan. Menapak jalan ilmu dengan keyakinan, menjalani amanah dengan cinta, dan menyongsong masa depan dengan optimisme tauhid yang kokoh.
Oleh: Qonita/MediaSTIS


