Harga Sebuah Amanah: Membaca sebagai Pondasi Kepemimpinan dan Peradaban

stishid.ac.id – Upgrading dosen putri yang diselenggarakan di Aula Kampus STIS Putri berlangsung dengan penuh kekhusyukan dan nuansa reflektif. Kegiatan ini menghadirkan Ustadz Dr. Abdul Ghaffar Hadi, S.Sos.I., M.Si. sebagai narasumber utama dengan tema “Harga Sebuah Amanah”, sebuah tema fundamental yang menyentuh langsung inti keimanan dan kepemimpinan seorang pendidik[10/1/2026].

Dalam pemaparannya, beliau menegaskan bahwa amanah merupakan karakter utama para nabi, bahkan menjadi indikator kesempurnaan iman seseorang. Tidak sempurna keimanan seseorang jika tidak amanah. Amanah bukan sekadar jabatan, tugas, atau kepercayaan formal, melainkan nilai hidup yang harus melekat pada setiap peran yang diemban, termasuk peran sebagai dosen dan pendidik.

Sebaliknya, orang yang meninggalkan amanah disebut sebagai khianat, sebuah predikat yang tidak hanya berdampak secara sosial, tetapi juga bernilai dosa secara spiritual. Dalam konteks ini, amanah menjadi “harga” yang harus dibayar dengan kesungguhan, kejujuran, dan tanggung jawab moral.

Lebih jauh, Ustadz Abdul Ghaffar mengaitkan amanah dengan manhaj lembaga, khususnya penekanan pada level iqra (membaca). Beliau menyampaikan pesan yang sangat kuat dan relevan dengan realitas hari ini “Pemimpin yang tidak membaca akan dikalahkan oleh realitas”Pernyataan ini menjadi tamparan reflektif bagi para peserta. Dalam dunia yang bergerak cepat, perubahan sosial, keilmuan, dan teknologi tidak akan menunggu siapa pun. Jika seorang pendidik tidak memperbarui wawasannya melalui membaca, maka ia akan tertinggal dan akhirnya tidak mampu menjawab tantangan zaman.

Beliau mempertanyakan secara mendasar “dari mana ilmu seseorang diperoleh jika bukan dari membaca?” Membaca bukan hanya aktivitas akademik, tetapi merupakan jalan utama untuk memperoleh hikmah, memperluas perspektif, dan menajamkan kepekaan intelektual serta spiritual.

Dalam analogi yang menggugah, Ustadz Abdul Ghaffar menjelaskan bahwa orang kafir dalam mengejar kesuksesan dunia saja memiliki target minimal dan maksimal dalam membaca. Mereka menyadari bahwa membaca adalah kunci penguasaan ilmu, strategi, dan kekuatan peradaban.

Maka, menjadi ironi jika umat Islam yang tujuan hidupnya bukan hanya dunia tetapi juga akhirat justru abai terhadap perintah membaca. Padahal, wahyu pertama yang turun adalah “Iqra”, sebuah perintah revolusioner yang menandai lahirnya peradaban Islam.

Beliau kemudian mengajak peserta menengok sejarah, khususnya sejarah lembaga Hidayatullah. Lembaga ini tidak lahir dari ruang kosong, tetapi dari inspirasi besar yang diperoleh Ustadz Abdullah Said melalui buah bacaan. Gagasan, visi, dan arah perjuangan tumbuh dari proses membaca yang serius dan berkelanjutan.

Bahkan hingga hari ini, kepemimpinan Hidayatullah dikenal dengan tradisi membaca yang kuat. Hal ini menjadi bukti bahwa membaca bukan sekadar kebiasaan personal, tetapi telah menjadi ruh perjuangan dan pondasi peradaban lembaga.

Upgrading dosen putri ini tidak hanya menjadi forum peningkatan kapasitas, tetapi juga ruang muhasabah. Bahwa menjadi dosen adalah amanah besar amanah ilmu, amanah teladan, dan amanah peradaban. Amanah itu menuntut kesungguhan untuk terus belajar, membaca, dan memperbaiki diri.

Membaca bukan pilihan tambahan, melainkan kewajiban ideologis dan spiritual. Dari membaca lahir ilmu, dari ilmu lahir peradaban, dan dari peradaban lahir kemuliaan umat.Tema “Harga Sebuah Amanah” akhirnya menjadi pengingat bahwa amanah memiliki harga mahal, dan salah satu cara menunaikannya adalah dengan setia pada perintah iqra (membaca, memahami, dan mengamalkan).

Wasan Labiqah