
Balikpapan, 20 Oktober 2025 — Apel pagi civitas akademika Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan pada Senin (20/10/25) berlangsung dengan suasana yang penuh makna. Di bawah tema “Belajar dari Negeri Dingin: Nilai Keilmuan dan Ketangguhan dari Islandia”, apel yang dipimpin oleh Ustadz Pajrin Basri, S.H., M.E. menghadirkan refleksi mendalam tentang peradaban, pendidikan, dan potensi manusia dalam bingkai Islam.
Dalam amanatnya, Ustadz Pajrin mengajak seluruh mahasiswa dan dosen untuk menelusuri sejarah Islandia—sebuah negara kecil di Eropa Utara yang dikenal dengan bentang alam es, gunung berapi, dan musim dingin ekstrem.
Meskipun hidup dalam kondisi geografis yang keras, masyarakat Islandia justru berhasil menumbuhkan peradaban yang unggul di bidang pendidikan, teknologi, dan etika sosial. “Dari negeri yang penuh es dan keterbatasan, mereka mengembangkan potensi alam dengan ilmu pengetahuan. Energi panas bumi yang dulu dianggap hambatan kini menjadi sumber kehidupan dan kemajuan,” tutur Ustadz Pajrin di hadapan peserta apel
.Ia menambahkan, Islandia menjadi contoh bagaimana ilmu mampu menundukkan alam, bukan untuk dieksploitasi, melainkan untuk dimanfaatkan secara bijak demi kesejahteraan manusia.
Hal ini, menurutnya, sejalan dengan prinsip Islam yang menempatkan ilmu dan amanah sebagai sarana memakmurkan bumi.“Islam mengajarkan kita untuk membaca tanda-tanda Allah di alam semesta. Bangsa Islandia membaca alam mereka dengan ilmu. Seharusnya umat Islam membaca ayat-ayat Allah di bumi dan langit dengan ilmu pula, agar menjadi umat yang memimpin, bukan sekadar mengikuti,” ujarnya.
Ketangguhan dari Negeri Dingin
Dalam paparannya, Ustadz Pajrin juga menyoroti ketangguhan moral dan sosial masyarakat Islandia. Negara dengan populasi kurang dari 400 ribu jiwa itu berhasil keluar dari krisis ekonomi tahun 2008 dengan menegakkan keadilan dan kejujuran di tengah sistem global yang rapuh.
“Ketika dunia tenggelam dalam krisis moral dan ekonomi, Islandia justru bangkit dengan nilai kejujuran, keadilan, dan keterbukaan. Inilah nilai universal yang sesungguhnya sejalan dengan spirit syariah Islam,” tambah nya.
Bagi Ustadz Pajrin, pelajaran dari Islandia bukan sekadar tentang kemajuan teknologi, melainkan tentang etos ilmu dan moralitas. Ia mengingatkan bahwa mahasiswa STIS Hidayatullah perlu meneladani semangat bangsa tersebut dalam mengembangkan potensi, meski dalam keterbatasan.
“Kita hidup di negeri yang kaya, tapi sering miskin semangat. Sedangkan mereka hidup di negeri yang miskin sumber daya, tapi kaya keinginan untuk belajar. Perbandingan ini seharusnya menyadarkan kita untuk menyalakan api keilmuan dan ketulusan dalam berjuang,” pesan beliau menutup amanatnya.
abana/MediaSTISHidayatullah


