Orang Beriman Tertibb dan Taat Aturan

*Abdul Ghofar Hadi

ADA SEORANG petugas da’i Pesantren Hidayatullah yang datang dari daerah timur. Mereka bercerita banyak tentang kondisi masyarakat dan dakwah atau istilahnya laporan dakwah. Banyak liku-liku dan jerih payah pelaksanaan dakwah di daerah-daerah pelosok.

Kemudian ada harapan yang sama dari para da’i daerah yaitu permohonan tenaga da’i untuk membantu dakwah di daerah. Banyak masjid-masjid dan daerah yang tidak bisa dijangkau dan dipenuhi karena kurangnya tenaga.

Inilah yang menarik dari pernyataan beliau yaitu banyak pekerjaan-pekerjaan dakwah di daerah yang tidak tertangani dengan baik. Beliau mengaku over pekerjaan dan kewalahan. Kemudian dia membuka lowongan pekerjaan ini bagi jamaah yang merasa kurang pekerjaan.

Inilah yang menarik bahwa definisi pekerjaan itu bukan sebatas hal-hal yang sifatnya materi, profit dan peningkatan kesejahteraan. Hari ini angka pengangguran di negara kita semakin hari semakin meningkat. Bahkan ada istilah pengangguran berdasi yang terdiri dari kalangan intelektual atau jebolan perguruan tinggi.

Pembatasan makna dari pekerjaan itu yang menyebabkan banyak orang berfikir sempit untuk mencari atau menunggu pekerjaan yang sifatnya materi. Bekerja itu bukan hanya menjadi pegawai di pemerintahan, di perusahaan, di pabrik dan di institusi. Sebab kalau hanya sebatas itu maka akan selalu antre orang untuk bekerja dan sedikit peluang untuk terbukanya lowongan pekerjaan.

Definisi pekerjaan orang beriman adalah mengantarkan sebanyak-banyaknya orang untuk bisa merasakan keimanan yaitu dengan dakwah dan tarbiyah. Pekerjaan dakwah ini tidak pernah berhenti dan sangat luas wilayahnya. Demikian juga wilayah tarbiyah juga tidak pernah putus untuk melayani setiap saat orang untuk ditarbiyah, baik secara formal maupun nonformal.

Sungguh sangat aneh dan lucu kalau ada orang beriman menganggur dan merasa kurang pekerjaan. Sebab keimanan ini seharusnya meronta-ronta untuk terus bergerak melakukan pekerjaan dakwah dan tarbiyah karena masih banyak masyarakat yang membutuhkan layanan pembinaan spritual. Kemudian realita masyarakat yang masih berbudaya jahiliyah dan belum tercerahkan dengan ajaran-ajaran Islam.

Tidak ada jeda seharipun bagi orang beriman kalau ingin terus bekerja. Sebab wilayah dakwah yang sangat luas dan memanggil-manggil keimanan mereka. Belum lagi bidang tarbiyah yang melayani orang-orang yang datang dari jauh untuk mendapatkan pembinaan keagamaan.

Inilah pekerjaan para nabi dan rasul yang mendapatkan amanah dari Allah dengan diangkatnya mereka adalah untuk mengantarkan umat manusia untuk beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Itulah misi pokok mereka untuk menyampaikan risalah Allah kepada umat manusia sebanyak-banyaknya.

Sekilas memang pekerjaan dakwah dan tarbiyah itu identik dengan perjuangan dan penderitaan. Sejarah memang membuktikan hal tersebut dan sunnatullah dalam menghadapi kebathilan, kemaksiatan dan penentangan syari’at Allah. Resiko pekerjaan ini memang selalu berhadapan dengan orang-orang yang ada dalam barisan penentang risalah Allah.

Meskipun begitu bagi orang beriman, pekerjaan dakwah dan tarbiyah adalah kenikmatan karena ada kepuasan iman. Seolah tidak profit tapi Allah tidak akan pernah melalaikan para hamba-Nya yang memperjuangkan risalah Islam dengan memberikan pertolongan yang tidak disangka-sangka dan jalan tidak terduga, baik bersifat materi maupun kebahagiaan.

Tidak ada cerita orang-orang beriman kelaparan karena kekurangan materi. Kelihatannya saja terlihat sengsara tapi mereka tidak merasa menderita sebab bukan materi yang menjadi tujuan. Bahkan ada sebagaian yang malah melimpah materinya, ini tentu sisi lain yang terkadang melenakan walaupun ini sebenarnya efek samping dakwah tarbiyah.

Resiko paling berat dari pekerjaan dakwah dan tarbiyah adalah mati. Dan mati bagi orang beriman bukanlah hal yang menakutkan tapi dicari sebab ketika tidak berdakwahpun juga akan mati juga, apalagi mati di jalan Allah dalam rangka menjalankan tugas dakwah. Tentu bernilai syahid dan surga yang menjadi idaman orang beriman.

Kemudian untuk berdakwah dan bergelut dalam tarbiyah tidak harus menunggu menjadi ustadz besar, memiliki keilmuan agama yang banyak atau berpesantren bertahun-tahun. Kata Rasulullah, “sampaikan walaupun hanya satu ayat.” Padahal sudah banyak ayat-ayat yang sudah kita pahami.

Kemudian ada pepatah, “kita tidak pernah bisa melaksanakan sesuatu sekaligus”. Artinya semua harus bertahap dan berproses untuk bisa terjun dan menekuni dunia dakwah dan tarbiyah. Wallahu a’lam bish shawwab.*/penulis adalah Ketua STIS Hidayatullah Balikpapan

Share

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp