‘Sosok Dermawan kepada Santri itu Telah Tiada’

ilustrasi kuburan muslim (google)

STISHID- Masih dalam suasana Tahun Baru Islam, warga Hidayatullah, khususnya Kampus Gunung Tembak, Balikpapan dirundung awan duka. H. Muhaimin bin Made Ali, seorang kader senior Hidayatullah meninggal dunia, Senin, 10/10/2016.

Dari informasi yang dihimpun, Muhaimin meninggal dunia bakda shalat Maghrib di kediamannya, sebuah perumahan di wilayah Ring Road, Balikpapan.

Lahir di Bone, 15-3-1946, almarhum sebelumnya mengalami komplikasi penyakit dalam dan dirawat beberapa kali rumah sakit. “Almarhum menderita penyakit jantung, diabetes, dan asam urat,” ungkap Abul A’la Maududi, putra almarhum yang juga bendahara Dewan Pengurus Hidayatullah (DPD) Balikpapan, 

Jenazah dishalatkan oleh ratusan warga dan santri di masjid ar-Riyadh, Gunung Tembak. Selanjutnya jenazah lalu diantar ke Tempat Pemakaman Umum (TPU) Gunung Tembak di samping lokasi Pondok Pesantren Hidayatullah.

Sejumlah pelayat juga terlihat berdatangan dari luar kota Balikpapan. Mulai dari Samarinda, Penajam Paser Utara, Bontang, hingga Makassar, Sulawesi Selatan.

Almarhum meninggalkan istri, Rahmaniah dan beberapa orang anak. Di antaranya, Abul A’la Maududi, Maulid Ahmad Maulana, Muhammad Haqqul Yaqin, Marwiyah, Misna, dan Masyitah.

Tiga akhlak mulia
Semasa hidup, H. Muhaimin dikenal sebagai sosok yang rajin ibadah dan semangat menuntut ilmu. Meski sudah bekerja di perusahaan minyak ternama di Balikpapan, hal itu tak menghalanginya untuk rutin menghadiri berbagai kegiatan di masa perintisan lokasi kampus Hidayatullah di Gunung Tembak dan Pengajian Malam Jumat yang diadakan setiap pekan di Karang Bugis.

“Setidaknya ada tiga sikap dan kebaikan yang paling berkesan dari sosok almarhum,” terang ustadz Abdul Latif Usman, sahabat H. Muhaimin, sebaagi sesama kader senior Hidayatullah.

“Pertama, bicaranya lembut, jarang ada yang tersakiti dengan ucapannya. Kedua, rajin shalat di masjid. Shalat malam juga tak pernah ketinggalan. Ketiga, almarhum paling suka memberi makan kepada santri dan warga pesantren,” tutur Abdul Latif dalam takziyah singkat di masjid ar-Riyadh.

Almarhum yang hobi bermain bulutangkis juga dikenang sebagai mantan driver mobil KH. Abdullah Said, pendiri Hidayatullah. “Pokoknya, almarhum itu kawan baik Ustadz Abdullah Said. Sampai diajak main bulutangkis sama-sama,” ucap Sudiono, santri awal Hidayatullah lainnya.

Atas semangat dakwah tersebut, KH. Abdullah Said lalu menikahkan almarhum dalam Pernikahan Massal 3 pasang (red: sebutan awal untuk Pernikahan Mubarakah Hidayatullah) tahun 1980. Turut bahagia bersama almarhum itu ketika itu, H. Edy Suryono (santri dari PT. ITCI, Kenangan) dan Ir. H. Albar Azies (almarhum).

“Selamat jalan wahai orangtua kami, Semoga Allah mengumpulkan kita semua di taman surga-Nya kelak. Amin,” tutup Abdurrohim, ketua STIS Hidayatullah, turut berbelasungkawa.*/ Djaulah/STISHID

 

Share

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp