Penuhi Asupan Rohani dengan Al Quran

*Masykur Suyuti, M.Pd.I
Pengasuh Mahasiswi STIS Hidayatullah
=========================


Entah apa yang ada dalam fikiran seorang Umayyah bin Khalaf, ketika ia mendapati budaknya yang selama ini tunduk, yang selama ini tidak pernah membantah, atas apa yang ia perintahkan, tiba-tiba hari itu, Bilal bin Rabah, demikian nama budak tersebut, itu ternyata mulai berani meninggalkan dan mengabaikan apa yang di peritahkan kepadanya.

Sejarah mencatat, kisah itu bukan terjadi hanya pada satu atau dua orang  sahabat, yang ketika ia telah berinteraksi dengan al quran, ketika ia telah mengenal ajaran Islam, maka seketika  terjadi perubahan yang begitu mampak, yang begitu mengguncangkan keluarga dan bahkan lingkungan dimana mereka berada.

Allah subhanahu wataala dalam semua firmannya menyatakan:

وَكَذَٰلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا ۚ مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَٰكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”

Ibnu Katsir Rahimahullah ketika menerangkan ayat ini, dengan jelas menyatakan bahwa Al Quran itu memiliki banyak nama, dan diantaranya adalah nama Ruh itu sendiri. Lebih jauh Ibnu Katsir kemudian menerangkan bahwa ia bukan sekedar nama,  ia bukan sedekar sesuatu yang memiliki banyak nama, tetapi sekaligus dia memiliki banyak fungsi, diantara fungsi al Quran adalah menghidupkan ruh yang ada dalam diri manusia.

Maka faktanya, diantara manusia ada yang secara fisik, memiliki jasad yang sempurna bahkan ditakuti sebagian manusia, tapi ketika rohani, sebagai salah satu unsur  dalam diri manusia itu kemudian sakit atau tidak pernah mendapatkan asupan, maka terjadilah yang namanya keserakahan, kita medapati orang korupsi misalnya, mereka melakukan itu, bukan karena kekurangan harta, tetapi persoalnnya adalah rohani yang dimiliki oleh manusia itu, ternyata tidak pernah mendapatkan asupan sebagaimana mestinya.

Dalam konsep yang berbeda, sebaliknya kita juga mendapati secara fisik, secara jasad, dialah orang yang tidak sempurnya fisiknya, tapi ketika rohani itu sehat dalam diri manusia, maka kita mendapati seorang tokoh Ahmad Yassin misalnya, hari ini, tidak seorang pun yang mengenalnya kecuali ia akan dikenang sebagai pahlawan, dia bahkan ditakuti oleh musuhnya, bahkan dia sampai harus dibunuh dengan helikopter tempur, bukan karena kesempurnaan fisiknya, tetapi rohaninyalah yang membuatnya melampaui orang-orang yang sehat sekalipun.

Bulan Ramadhan, sekali lagi hadir menyapa seluruh kaum  muslimin, menawarkan  begitu banyak Rahmat, begitu banyak karunia, yang salah satunya itu didapatkan dengan cara memperbanyak membaca al Quran , semata mata untuk menghidupkan, menyegarkan, menyehatkan rohani yang selama ini mungkin, selama perjalanan kehidupan manusia ia mengalami sakit, dan terabaikan oleh pemiliknya  akibat kesibukan dunianya.

Allah Subhanahu Wata’ala menyatakan  “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami”

Ia (al Quran) bukan sekedar nama, bahwa sehatnya hati seorang manusia, ditandai dengan sejauh mana ia berinteraksi dengan Al Qur’an dalam kehidupan ini.*/Ditulis oleh Arvah Bandule⁠⁠⁠⁠, Makassar

Share

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp