MTs Negeri Model Samarinda Berkunjung ke MTs Hidayatullah

STISHID – Silaturahim selalu membawa berkah kebaikan. Inilah spirit yang mengiringi perjalanan Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri Model Samarinda kala berkunjung ke salah satu pesantren terbesar di Kalimantan Timur (Kaltim), Pesantren Hidayatullah Kampus Gunung Tembak, Balikpapan

“Sebagai pesantren terbesar di Kaltim, tentu banyak memiliki keunggulan dan kebaikan yang layak ditiru oleh umat Islam lainnya,” Uujar Irfan Anshori, mewakili sambutan tamu.

“Secara khusus, MTs Negeri Model Samarinda juga ingin menimba ilmu dan berbagi pengalaman dengan Madrasah Tsanawiyah (MTs) milik Pesantren Hidayatullah yang lebih populer dengan sebutan Sekolah Pemimpin Hidayatullah,” imbuh Irfan kembali.

Rombongan terdiri dari 25 orang dewan guru dan 300-an siswa-siswi kelas IX MTs Negeri Model Samarinda.

Usai dijamu di Kantor Yayasan Pesantern Hidayatulah, rombongan tamu berkesempatan melihat lebih dekat aktifitas para santri Hidayatullah.

Selain berkunjung ke gedung sekolah, mereka juga menyempatkan berkeliling lingkungan pesantren sambil menikmati pemandangan danau yang terhampar di tengah kampus.

“Semua fasilitas dan lingkungan alam yang ada di pesantren menjadi sarana pendidikan bagi para santri,” ucap Arfan, Direktur Sekolah Pemimpin.

Dikatakan Arfan, visi Sekolah Pemimpin Hidayatullah melahirkan siswa yang amanah dan mandiri.

Untuk mendukung capaian target tersebut, Sekolah Pemimpin menerapkan konsep pendidikan integrasi yang mencakup pembinaan di asrama, madrasah, dan masjid sebagai pusat pendidikan.

Masih menurut Arfan, masjid tidak hanya difungsikan sebagai tempat shalat berjamaah secara ritual. Tapi diharapkan benar-benar menjadi pusat kegiatan pembinaan spritual.

“Seluruh santri dan warga pesantren wajib shalat berjamaah lima waktu tanpa kecuali,” urai Arfan menerangkan. Selanjutnya, para santri juga dilatih kecerdasan sosial, kemandirian, serta leadership skill (kecakapan memimpin).

Untuk kompetensi dasar siswa Sekolah Pemimpin Hidayatullah, Arfan mengakui bersandar kepada tiga program unggulan sekolah. Yaitu, Hafalan Al-Qur’an, Bahasa Arab, dan Bahasa Inggris.

Tiga hal ini menjadi standar utama untuk mengukur keberhasilan intelektual santri. Sebagai penunjang program, Sekolah Pemimpin lalu mengirim sejumlah guru dan pengasuh menimba ilmu ke beberapa Ma’had Tahfidz al-Qur’an.

Sebagaimana Sekolah Pemimpin juga mengutus guru-gurunya ke Kampung Inggris, Pare, Jawa Timur untuk memperdalam Bahasa Inggris di sana.

“Semua mujahadah tersebut kami niatkan untuk pelayanan lebih maksimal terhadap kebutuhan siswa Sekolah Pemimpin,” terang Arfan yang lulusan Magister Pendidikan Islam di Insitut Agama Islam Negeri (IAIN) Antasari, Banjarmasin itu.

Seperti diketahui, Sekolah Pemimpin Hidayatullah adalah hasil kekrja bareng Pesantren Hidayatullah Balikpapan dengan Baitul Maal Hidayatullah (BMH).

Kini di bawah komando Arfan, Sekolah Pemimpin diharapkan melahirkan sosok santri yang dikenal bermental baja dan punya ghairah dakwah dan ibadah yang tangguh.

“Kami butuh doa dari seluruh umat Islam dalam rangka proyek mencetak generasi pelanjut dakwah ini,” pungkas Arfan berharap.*/Masykur Abu Jaulah

Share

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp