Indahnya Dekapan Ukhuwah

semut
Stishid.ac.id – “Dan Allah yang mempersatukan hati para hamba beriman. Jikapun kau nafkahkan perbendaharaan bumi seluruhnya untuk mengikat hati mereka, takkan bisa kau himpunkan hati mereka. Tetapi Allah-lah yang telah menyatupadukan mereka…” (QS. Al-Anfal [8]: 63).
 
Betapa mahalnya anugerah hidup berjamaah. Anugerah yang tak ternilai dengan angka, bahkan perbendaharaan seisi dunia pun tak sanggup membelinya. Jika bukan karena kemurah-hatian Allah, kita tak akan pernah merasakan indahnya hidup berjamaah. Kita tak akan pernah mencicipi manisnya ukhuwah. Hanya Allah yang punya kuasa untuk mempersatukan dan menghimpun hati-hati kita dalam dekapan ukhuwah dan ikatan jamaah.
 
“Aqidah ini memang ajaib!” Ucap Sayyid Quthb ketika Tafsir Fi Zhilalil Qur’an yang ia susun sampai kepada ayat ini. “Ketika telah meresap ke dalam hati, ia akan menjadikan hati itu dipenuhi rasa cinta dan kasih sayang di antara sesamanya. Yang keras beralih lunak, yang kasar menjelma lembut, yang kering berubah menjadi basah, yang liar menjadi jinak.”
Dimulai dari satu kata: iman. Termaktub dalam firman-Nya, hanya Mukmin-lah, orang-orang memiliki dan menghidupkan iman dalam hatinya, yang bisa bersaudara dalam dekapan ukhuwah sejati. Hanya dengan iman dan karena iman, dekap ukhuwah ini menjadi jalinan simpul indah yg kemudian mewujud dalam sebuah ikatan jamaah.
Tak salah jika Allah dan Rasul-Nya menjadikan keimanan sebagai tolok ukur persaudaraan yg paling hakiki, mengalahkan kuatnya tali ikatan darah dan nasab. Juga tak salah jika Allah dan Rasul-Nya meletakkan banyak ukuran iman dalam kualitas hubungan kita dengan sesama.
“Tidaklah beriman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”
“Rasulullah ditanya, “Siapa yg tidak sempurna imannya Ya Rasul?” Rasulullah menjawab, “Seseorang yang tetangganya tidak merasa aman dari kejahatannya.”
“Orang-orang Mukmin, dalam kasih sayangnya, ibarat satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka anggota tubuh yang lain ikut merasakan demam dan kurang tidur.”
 
Sungguh sangat banyak ayat atau hadits yang menggambarkan eratnya kaitan antara keimanan dengan kualitas ukhuwah kita. Terjaganya saudara sesama Muslim dari gangguan lisan dan tangan kita, itulah batas terendah dalam standar ukhuwah.
Sebagai seorang yg telah mengikatkan diri pada ikatan jamaah, aku berjanji pada diri sendiri untuk tak akan pernah menyia-nyiakan anugerah ini. Ayo kita kencangkan dekap ukhuwah kita, eratkan ikatan jamaah kita, bersama berikrar untuk bermesra di jalan-Nya. Bersama, kita saling bertopang tangan dan bertolong bantu dalam menegakkan kalimah Allah dan risalah Nabiyullah. Bersama, kita tumpahruahkan energi kebajikan ke segenap penjuru bumi, agar peradaban Islam yang kita idamkan mewujud indah, dalam bingkai Islam kaffah.
Bersama, kita bisa. Bersama, kita ada. Bersama, kita nyata.
“Berdua lebih baik daripada sendiri. Bertiga lebih baik daripada berdua. Berempat lebih baik daripada bertiga, maka hendaklah kalian tetap bersama berjamaah, karena sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan ummatku kecuali atas sebuah petunjuk (hidayah).” (HR. Ahmad). */Zahratun Nahdhah (lulusan STIS Putri 2010)
Editor: Admin Stishid
 

 

Leave us a Comment