Aksi 212, Ulama dan Qaulan Tsaqiilan yang Menggugah Jiwa

monas
Stishid.ac.id – Jika melihat #AksiSuperDamai212 kemarin, ada satu kesimpulan yang bisa kita ambil. Jangan main-main dengan ummat Islam yang digerakkan oleh kekuatan iman dan dikomandoi oleh para ulama.
Coba pikir. Kekuatan apa yang mampu membuat 7,3 juta massa bergerak serentak kalau bukan kekuatan iman? Tak ada. Tak ada parpol, organisasi, atau institusi apapun yang sanggup mengerahkan massa sebanyak itu, tanpa dibayar sepeserpun. Tanpa diiming-iming apapun secara materi.
Dan tokoh mana yang sanggup mengarahkan dan mengomandoi 7,3 juta massa untuk ikut serta dalam aksi dengan tetap tertib, damai, tidak anarkis, menjaga akhlak dan adab, selain ulama? Saya yakin, tidak ada. Panglima TNI, Kapolri, petinggi parpol, konglomerat, gubernur, menteri, atau bahkan presiden sekalipun, tak akan sanggup.
Bayangkan. Ketika aksi berlangsung, ketika sekian juta manusia berjubel di Monas dan sekitarnya, semua peserta duduk rapi di shafnya masing-masing. Ketika diminta berdiri dan pindah tempat mereka menurut, ketika disuruh duduk mereka patuh. Tak ada yang dorong-dorongan, tak ada yang sikut-sikutan, tak ada kericuhan, tak ada umpatan dan hujatan dilontarkan. Semuanya mengikuti arahan dan komando ulama agar aksi tetap berlangsung damai, tertib, santun dan kondusif.
Itu belum cukup. Seusai sholat Jum’at dan doa bersama, ketika ulama naik mimbar meminta peserta aksi agar membubarkan diri dan kembali ke daerah asal masing-masing dengan tertib, tak perlu waktu lama, bahkan hanya dalam hitungan menit, satu persatu peserta beranjak membubarkan diri dengan kesadaran sendiri.
Lihatlah, hanya dengan berbicara dan mengimbau, para ulama mampu memulangkan jutaan ummat dengan aman dan tertib, tanpa perlu memaksa apalagi mengancam dengan todongan senjata dan gas air mata.
Pertanyaannya: kekuatan apa yang dimiliki oleh para ulama itu, sehingga mereka mampu membuat jutaan manusia taat dan patuh di bawah arahan dan komando mereka?
Para ulama, sebagaimana kita, hanyalah manusia biasa dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Mereka bukanlah superhero yang memiliki superpower, mereka bukanlah paranormal yang memiliki kemampuan supranatural.
Mereka hanyalah orang biasa, yang tak luput dari salah dan dosa sebagaimana laiknya manusia yang merupakan tempatnya salah dan lupa, yang hanya karena kebaikan dan kasih sayang Allah, sehingga aib mereka ditutupi dan tak ditampakkan oleh-Nya.
Mereka hanyalah manusia biasa seperti kita, tetapi mereka diangkat derajatnya oleh Allah, diberi kemuliaan oleh-Nya yang belum tentu dimiliki oleh yang lainnya. Mereka diberi keistimewaan oleh Allah yang membuat mereka berbeda dari manusia kebanyakan.
Mereka adalah orang-orang yang bersih dan terjaga hatinya, kuat ibadahnya, dahsyat kekuatan ruhiyahnya, mendalam ilmunya, sehingga Allah karuniai kelebihan berupa qaulan tsaqiilan dan qaulan baliighan. Kalimat yang berbobot dan mampu mempengaruhi jiwa. Tak heran jika kata-kata mereka mampu menembus hati dan merasuk sanubari jutaan manusia. Sehingga orang-orang yang sebelumnya kontra pun berbalik menjadi pendukung setia. Yang tadinya keras hati pun menjadi lembut dan tergugah hatinya.
Berkaca dari #AksiBelaIslam411 dan #AksiBelaIslam212 yang sukses mencengangkan dunia, baik karena besarnya jumlah massa yang terlibat serta karena damai dan kondusifnya aksi dari awal sampai akhir, maka mulai saat ini, pemerintah, polisi dan TNI jangan pernah meremehkan ulama. Jangan pernah membuat mereka marah dan geram. Sebab, sekali ulama bergerak, jutaan ummat siap ikut bergerak di bawah komando mereka.
Jika raja-raja dalam lakon pewayangan digambarkan memiliki “sabdho pandhita ratu”, maka para ulama memiliki “qaulan tsaqiilan” dan “qaulan baliighan”  yang efeknya jauh lebih dahsyat dibanding titah raja atau presiden sekalipun. Kenapa? Karena ulama berbicara atas dasar iman, dengan kekuatan spiritual hasil dari riyadhah ruhaniyah dan taqarrub ilallah. Mereka berbicara dengan hati dan ruhani yang bersih dari tendensi maupun ambisi duniawi.
Itulah jawaban mengapa jutaan ummat Islam bisa menangis tersedu sedu saat mendengarkan doa yang dipanjatkan Ust. Arifin Ilham.
Itulah jawaban mengapa jutaan ummat Islam terharu dan tergugah hatinya ketika mendengarkan taushiah yang disampaikan oleh Aa Gym.
Itulah jawaban mengapa jutaan ummat Islam bisa tergerak dan terbakar ghiroh juangnya saat mendengarkan khutbah yang disampaikan Habieb Rizieq Shihab.
Itulah jawaban mengapa jutaan ummat Islam bisa bangkit semangat membela Al Qur’an, membela agama dan membela ulama-nya saat mendengar orasi dari Ust. Bachtiar Natsir, para habaib, asatidz dan ulama lainnya.
Itulah jawaban mengapa jutaan ummat bisa taat, tunduk dan patuh pada arahan dan imbauan ulama.
I’m just thinking… Bukan hal yang sulit sebenarnya bagi para ulama untuk melengserkan pemerintahan dan mengambil alih kekuasaan, jika mereka menginginkannya. Sebab massa yang sedemikian banyaknya tinggal menunggu komando dari para ulama saja untuk bergerak. Jika para ulama meminta mereka untuk menduduki istana dan gedung DPR/MPR misalnya, saya yakin, massa akan dengan senang hati melakukannya. Tetapi mereka tidak melakukannya.
Oleh karena itu pemerintah dalam hal ini presiden dan jajarannya harus berterima kasih kepada para ulama yang masih menghargai dan menghormati pemerintah yang sah. Masih bersabar menunggu dan mengawal proses hukum penistaan agama yang sedang berjalan. Jangan sampai pemerintah mempermainkan kesabaran mereka. Sebab jika para ulama dipermainkan, ada jutaan ummat yang siap mati demi membela kehormatan para ulamanya.
Cukuplah hadits Nabi di bawah ini Ulama Pewaris Nabi menjadi pengingat kita untuk terus menghargai, menghormati dan mencintai ulama.
Rasulullah bersabda:
إن الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barangsiapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (Tirmidzi, Ahmad, Ad-Darimi, Abu Dawud)
Dalam hadits lain Rasulullah juga bersabda,
إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعاً يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِباَدِ، وَلَكِنْ بِقَبْضِ الْعُلَماَءِ. حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عاَلِماً اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوْساً جُهَّالاً فَسُأِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّو
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari hamba-hamba. Akan tetapi Dia mencabutnya dengan diwafatkannya para ulama sehingga jika Allah tidak menyisakan seorang alim pun, maka orang-orang mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh. Kemudian mereka ditanya, mereka pun berfatwa tanpa dasar ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.”(HR. Al-Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673).
Ya Allah Rabbul ‘Izzati, lindungilah para ulama kami. Jagalah mereka, kuatkan dan sehatkan mereka, panjangkan umur mereka, agar mereka bisa terus membimbing dan mengarahkan kami dalam kebaikan dan kebenaran. Aamiin Yaa Robbal ‘Aalamiin.
#AksiBelaIslamIII
#SaveOurUlama
#CintaUlama
With love,
Zahratun Nahdhah (alumnus STIS HIdayatullah 2010)

Leave us a Comment