Bahagia itu Sederhana

STISHID – Bagi santri yang biasa mondok di pesantren, berpuasa Senin Kamis adalah hal lumrah dilakukan. Saban hari Senin dan Kamis, Dapur Umum milik pesantren menyiapkan menu sahur dan buka puasa bagi para santri. Terkhusus santri yang kreatif, biasanya mereka mengolah masakan sendiri bareng kawan-kawannya. Menurut mereka, setidaknya ada sensasi berbeda jika santri berhasil menikmati hasil racikan mereka sendiri. “Rasanya gimana gitu menikmati racikan bumbu sendiri.”  Ucap Ega Liznawati, seorang mahasiswi asal Bengkulu.

Seperti beberapa waktu lalu, sejumlah mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Putri tampak bersibuk jelang buka puasa hari itu. Rupanya mereka menyiapkan Opening Menu berbuka dengan pilihan Jus Mangga sebagai pembasah tenggorokan mereka. “Es Jus Mangga ini spesial buat mahasiswi yang berpuasa sore ini.” Ujar Aprianingsih, mewakili tim peracik. “Yup, hitung-hitung buat mendinginkan otak yang lelah ngetik skripsi.” Imbuh Aprianingsih yang juga mahasiswi tingkat akhir STIS.

Spesialnya lagi, masih menurut Apri, buah mangga yang diolah mahasiswi itu ternyata hasil dari perburuan mereka di beberapa lokasi kebun pesantren lalu. Oleh santri, pekerjaan semacam itu biasa dinamai dengan “brijieng” buah. Sebuah kata istilah yang merujuk kepada kebiasaan para pengebor sumur minyak di belantara hutan. Sebelum pengeboran, umumnya mereka berhari-hari tinggal di hutan mencari sumber minyak terlebih dahulu.

Ibarat gayung bersambut, ternyata ide sederhana sebagian mahasiswi tersebut tak bertepuk sebelah tangan. Sejumlah mahasiswi yang sedang menjalankan ibadah sunnah itu merasa tersanjung dengan perhatian kawannya. Terkhusus buat senior mereka, mahasiswi angkatan akhir. “Ternyata kakak kelas sangat perhatian kepada kita. Sangkanya mereka sudah sibuk berkutat dengan urusan skripsi saja.” Tutur Emi polos. Tak lupa Emi mendoakan buat kelancaran penulisan skripsi mereka saat ini.

Mendengar kepolosan para mahasiswi yang turut berbuka bersama, mahasiswi semester VII yang menjadi inisiator gawe tersebut ikut menjadi senang. Dikatakan Apri, awalnya mereka juga mengaku hanya ingin berbagi saja kepada kawan-kawannya. “Jadi terharu mendengar support dari adek-adek buat kelancaran skripsi kami. Syukran ya!” Timpal Aini, wakil semester VII lainnya, sambil menyodorkan Jus Mangga kepada mahasiswi yang telat datang.

Menurut Aini, keakraban ukhuwah semacam ini hendaknya terus dirawat di lingkungan Asrama, terkhusus sesama mahasiswi STIS. Dengannya, bisa saling menguatkan dan bersinergi dalam menjalankan amalan-amalan sunnah seperti puasa Senin Kamis dan buka puasa bersama.

“Harapannya, kekompakan ini terus terjaga bahkan harus ditingkatkan.” Ucap Aini menitip pesan kepada mahasiswi. “Jika perlu tak ada lagi yang goncang ingin meninggalkan kuliah di STIS.” Imbuh Aini, mahasiswi asal Nusa Tenggara Barat ini.

Tak terasa, adzan Maghrib yang ditunggu pun berkumandang. Dengan berharap berkah dari Allah, para mahasiswi pecinta puasa sunnah itu lalu bergegas membatalkan puasa. Satu pelajaran buat mereka, ternyata bahagia itu sederhana. Saling berbagi segelas Jus Mangga di antara mahasiswi, sudah cukup untuk memancarkan sinar kebahagiaan di Asrama Mahasiswi STIS Hidayatullah tersebut. “Alhamdulillah, bahagia itu sederhana.” Pungkas Aprianingsih, mewakili seluruh mahasiswi. */Rifqi – Mahasiswi STIS HIdayatullah

Leave us a Comment