Menentukan Rumah Idaman

Stishid.ac.id- Entah mengapa ketika saya masih kecil pernah berfikir tentang  rumah. Letak dan posisi rumah yang bagus itu di mana? Itu pertanyaan yang sering datang dengan tiba-tiba dan muncul jawaban di pikiran juga dengan tiba-tiba. Mungkin saat kecil dulu berfikir bahwa rumah orang tua tidak ideal posisinya dan suka berfikir menghayal.

Saat itu belum berfikir bentuk dan biaya membangun rumah, itu belum masuk dalam kapling otak saya. Sebagaimana anak saya sekarang yang santai bicara tentang rumah ideal menurutnya sementara saya sebagai orang tua pusing memikirkan bagaimana bisa mendapatkan rizki untuk membangun rumah.

Berikut ini beberapa ini posisi rumah yang pernah terlintas dalam pikiran saat saya masih kecil. Pertama, suatu saat nanti saya ingin membangun rumah dekat rumah sakit. Pikiran ini muncul saat melihat  kesulitan orang tua mengantar dan merawat kakak yang sedang sakit typus. Malam-malam harus mencari kendaraan yang mau mengantar ke rumah sakit padahal letaknya cukup jauh di dekat kecamatan. Saat itu saya berfikir, jika rumah dekat rumah sakit maka kapanpun angota keluarga sakit mudah dan cepat mengantar ke dokter.

Tapi tiba-tiba pemikiran tersebut melemah karena setiap pergi ke sekolah, saya melewati rumah sakit dan  melihat banyaknya pasien-pasien orang gila yang berkeliaran di sekitar  rumah sakit. Mereka aneh-aneh, ada yang suka mengamuk, senyum-senyum getir, ada yang suka memandang dengan tajam tak bersahabat. Rasanya ngeri, tak nyaman dan ada kekhawatiran tertular penyakit karena rumah sakit adalah pusatnya orang sakit. Akhirnya pemikiran tersebut sirna dengan sendirinya.

Kedua, saya ingin rumah yang dekat kantor polisi. Tentu ini karena alasan keamanan, karena di kampung beberapa kali terjadi pencurian dengan berbagai modus. Ada yang digansir ( digali bagian bawah rumah), terkadang lewat atap rumah, ada yang disirep (penghuni rumah dibuat tertidur pulas), bahkan terkadang pencuri berani menciderai korbannya. Kritisnya, petugas pos kampling selalu datang terlambat apalagi polisi yang tempat jauh di kecamatan.

Walaupun rumah saya tidak menjadi korban tapi rasanya terteror setiap malam. Pintu rumah harus dikunci, diberi penghalang secara berlapis, diberi timba atau seng agar kalau pintu dibuka dengan paksa maka akan bunyi dan saya cepat bangun, menyiapkan berbagai senjata tajam tradisional seperti pisau dapur, sabit  untuk mencari rumput dan ketapel. Saya berfikir bahwa rumah yang aman itu dekat kantor polisi karena pencuri pasti berfikir ulang untuk mencuri.

Tapi saya tertegun heran karena ada beberapa kali pencurian motor di halaman kantor polisi yaitu orang-orang yang sedang mengurus SIM, perpanjangan STNK, milik polisipun pernah hilang. Pencurian helm menempati rangking pertama yang sering hilang, kedua sepatu polisi yang sedang shalat di masjid juga sering hilang tak berbekas. Saya menjadi berfikir ulang untuk mempunyai rumah dekat kantor polisi karena keamanan itu sebenarnya bukan dari polisi.

Ketiga, saya ingin rumah dekat pasar. Pemikiran ini muncul karena ibu sering menyuruh pergi belanja kebutuhan sehari-hari. Sementara pasar jauh, rasanya malas dan capek tapi tak berani juga menolak. Ketika hari-hari menjelang lebaran, saya sering terlambat informasi kalau ada obralan dan diskon besar-besaran di pasar. Saat itu saya berfikir bahwa rumah dekat pasar banyak kemudahan untuk memenuhi kebutuhan keseharian maupun untuk sekolah. kemudian waktu kecil, saya senang melihat keramaian-keramaian orang banyak dengan segala kepentingannya membeli dan menjual aneka ragam dagangan.

Namun saat mencium bau tidak sedap di sekitar pasar entah sampah, sayur-sayuran busuk dan kendaraan yang datang silih berganti tak pernah berhenti mengeluarkan asap dan suara bising penjual obat, keributan orang bertengkar mulut dan berkelahi fisik.  Maka saya jadi mengurungkan niat punya rumah dekat pasar. Apalagi ada yang mengatakan bahwa sejelek-jeleknya orang adalah yang datang ke pasar paling cepat dan pulang paling lambat.

Selanjutnya secara bergantian muncul pikiran untuk mempunyai rumah di perumahan yang asri dan terjaga karena ada security yang siap siaga setiap saat. Terkadang muncul lagi ide untuk membangun rumah di dekat pantai karena mudah berlibur dan berenang tapi khawatir kalau tsunami. Pikiran dan ide tersebut datang silih berganti tanpa ada kesimpulan yang jelas.

Beriring dengan perjalanan waktu, umur yang bertambah dan kedewasaan yang semakin matang maka saya mulai menemukan jawaban yang sedikit melegakan. Rumah yang baik tergantung pada lingkungan dan tetangganya. Sebab pagar yang aman bukan tembok yang tinggi dengan jeruji-jeruji besi tajamnya mengelilingi rumah tapi pagar yang sejati adalah tetangga di sekitar rumah.

Memilih rumah sama dengan memilih tetangga. Tetangga adalah orang lain yang paling dekat dengan kita. Nyaman dan amannya sebuah rumah sangat tergantung dengan tetangga. Bahkan Rasulullah memberikan standart keimanan dengan berbuat baik dengan tetangga. Beliau bersabda,” Barang siapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka muliakanlah tetangganya”.

Tetangga bukan hanya orang yang mempunyai rumah di sebelah kanan, kiri, depan dan belakang kita. Tapi melingkupi seluruh rumah-rumah dalam satu lingkungan masyarakat. Keberadaan masyarakat sangat tergantung dengan keteraturan dan kepemimpinan di dalamnya.

Maka pemikiran terakhir saya tentang rumah adalah di lingkungan Pesantren Hidayatullah di Balikpapan. Program utama di sini adalah shalat wajib berjamaah di masjid, membangun ukhwah islamiyah dengan kebersamaan. Ada kepemimpinan yang jelas dan bertanggungjawab dalam masalah kehidupan jasmani dan ruhani. Di lingkungan Pesantren Hidayatullah memang belum sempurna, banyak sisi kekurangan dan kelemahan tapi itu wajar sebagai sebuah wadah ikhtiar manusia di dunia. Kesempurnaan itu hanya milik Allah dan kepuasan akan kita raih hanya di surga-Nya nanti.

Terpenting bersyukur dengan kelebihannya dan bersabar dengan kekurangannta,  kita terantar untuk menjadi manusia yang sholeh. Allahu Akbar.*/Abu Yasin Putri/stishid.ac.id

Leave us a Comment